— Nilai tukar rupiah (IDR) melanjutkan tren penguatannya terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada penutupan perdagangan Rabu, 19 Agustus 2026. Pada sore hari, rupiah ditutup menguat 22 poin atau 0,12% ke level Rp 17.840 per dolar AS, naik dari penutupan sebelumnya di Rp 17.862 per dolar AS.

Penguatan ini terjadi setelah Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung pada 18-19 Agustus 2026. Selain itu, Pjs. Gubernur BI Destry Damayanti juga mengumumkan bahwa suku bunga Deposit Facility dan Lending Facility dipertahankan pada 4,75% dan 6,50%, dengan selisih masing-masing 25 basis poin.

Meskipun sentimen ketegangan konflik antara Amerika Serikat dan Iran masih membayangi pasar global, penguatan rupiah tetap berlanjut. Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa investor sedang menimbang sinyal yang saling bertentangan dari Teheran dan Washington terkait status Selat Hormuz. Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak ada pembicaraan yang sedang berlangsung dengan Iran dan menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap terbuka, berbeda dengan klaim Iran yang menyatakan jalur air vital tersebut masih tertutup.

Dalam upaya mengantisipasi dampak potensi kemacetan di Selat Hormuz, Irak telah menyetujui mekanisme ekspor minyak mentah melalui perusahaan internasional dan lokal khusus, serta melalui berbagai jalur ekspor. Kontrak di bawah mekanisme baru ini akan berlaku selama tiga bulan mulai 1 September, menurut pernyataan resmi setelah rapat kabinet negara tersebut.

Situasi ini juga memengaruhi perusahaan pelayaran. Dua perusahaan pelayaran raksasa asal China dilaporkan telah menghentikan pengiriman kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz dan Bab al-Mandeb akibat konflik Timur Tengah. Mereka memilih untuk mengambil muatan minyak di luar wilayah Teluk.

Ibrahim menambahkan bahwa di tengah situasi geopolitik yang kompleks ini, investor juga menantikan rilis risalah rapat Federal Reserve bulan Juli yang dijadwalkan pada hari Rabu. Risalah ini diharapkan memberikan petunjuk mengenai pandangan para pembuat kebijakan The Fed terhadap inflasi dan langkah selanjutnya terkait suku bunga. Perhatian pasar kemudian akan beralih pada pernyataan Ketua The Fed, Kevin Warsh, dalam simposium Jackson Hole pekan depan.