— Ahli memproyeksikan harga emas dunia berpeluang melanjutkan penguatannya dari level US$ 4.300 per troy ounce, meskipun tren penurunan masih menjadi bayang-bayang. Namun, pergerakan harga emas dalam sepekan ke depan diprediksi masih akan dipengaruhi oleh sentimen konflik di Timur Tengah yang masih berlangsung, serta kebijakan bank sentral Amerika Serikat.

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa rentang pergerakan harga emas sepekan ke depan berada di antara US$ 4.151 per troy ounce sebagai level support, dan US$ 4.493 per troy ounce sebagai level resistance.

Untuk perdagangan hari Senin (10/8/2026), Ibrahim memprediksi support harga emas berada di US$ 4.279 per troy ounce, dengan resistance di US$ 4.405 per troy ounce.

Ibrahim menjelaskan bahwa sentimen geopolitik menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi pergerakan harga emas. Ia menyoroti potensi tercapainya kesepakatan antara Iran dengan Oman mengenai pengendalian Selat Hormuz, yang dilaporkan juga kepada Amerika Serikat. Meskipun demikian, Iran dilaporkan juga melakukan penyerangan terhadap kapal-kapal Uni Emirat Arab di wilayah Selat Hormuz.

Sentimen geopolitik di Timur Tengah masih sangat dominan dalam perhatian pasar, ditambah dengan konflik di kawasan Eropa Timur di mana Rusia terus melakukan penyerangan terhadap ibu kota Ukraina, Kyiv. Perkembangan ini turut memengaruhi sentimen investor terhadap emas.

Dari sisi kebijakan bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve, arah harga emas akan dipengaruhi oleh rilis data ekonomi AS yang positif. Data tenaga kerja yang menunjukkan penurunan tingkat pengangguran hanya 23.000 pada bulan Juli diperkirakan akan memberi ruang bagi The Fed untuk tetap mempertahankan suku bunga pada bulan September mendatang.

“Ekspetasi para analis bahwa kenaikan suku bunga mengalami penurunan di 40% di bulan September. bisa saja saat harga minyak mengalami penurunan hingga ke level di bawah US$ 60 akan membuat inflasi di Amerika kembali mengalami penurunan,” beber Ibrahim.