— WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat Donald Trump melayangkan tuntutan ganti rugi finansial secara terbuka kepada pemerintah Iran. Langkah ini diambil sebagai respons atas laporan Iran yang menuntut kompensasi atas kerusakan akibat perang kawasan yang melibatkan AS dan Israel sejak akhir Februari 2026.

Melalui unggahan di platform media sosial Truth Social, Trump menyebut ide ganti rugi dari Iran sebagai hal yang menarik. Ia kemudian memutuskan untuk balik menuntut ganti rugi dari Republik Islam tersebut. “Saya menuntut kompensasi dari Iran atas seluruh korban yang tewas dan luka parah akibat bom tepi jalan serta berbagai konflik yang melibatkan mereka,” tulis Trump.

Trump menegaskan bahwa klaim ganti rugi dari pihak Iran tidak pernah dibahas sama sekali dalam perundingan sebelumnya. Ia pun telah menginstruksikan delegasi AS untuk memasukkan tuntutan balasan ini secara resmi ke dalam setiap negosiasi di masa mendatang.

Rincian Tuntutan Kompensasi Donald Trump

Dalam perincian tuntutannya, Trump mengaitkan aksinya dengan rekam jejak aktivitas militer Iran dalam beberapa dekade terakhir, termasuk operasi militer yang dulunya dipimpin oleh Jenderal Qasem Soleimani. Secara khusus, Trump meminta ganti rugi disalurkan kepada pihak keluarga korban militer, demonstran, dan korban sipil.

Pihak keluarga dari tentara AS yang tewas dalam insiden pengeboman kapal perang USS Cole pada tahun 2000, serta ribuan tentara lain yang gugur dalam berbagai pertempuran, menjadi salah satu penerima yang disebut Trump. Selain itu, ia juga meminta kompensasi bagi keluarga dari ratusan ribu demonstran yang tewas dalam aksi protes melawan pemerintah Iran selama 50 tahun terakhir, serta sekitar 52.000 jiwa yang gugur dalam eskalasi konflik lima bulan terakhir.

Tuntutan beruntun dari kedua belah pihak ini berpotensi makin memperrumit serta memperkeruh proses perundingan damai yang sedang dirancang oleh PBB dan pihak mediator internasional. Hubungan diplomatik antara AS dan Iran telah berada dalam titik nadir sejak Revolusi Islam Iran 1979 dan krisis penyanderaan Kedutaan Besar AS di Teheran.

Selama lima dekade terakhir, ketegangan kedua negara terus dipicu oleh perselisihan program nuklir Iran, sanksi ekonomi berat dari AS, serta keterlibatan jaringan milisi regional yang disokong Teheran di kawasan Timur Tengah. Situasi geopolitik makin memanas menyusul eskalasi militer terbuka sejak 28 Februari 2026, yang melibatkan operasi gabungan AS dan Israel di kawasan.

Perang kawasan selama lima bulan tersebut memicu krisis kemanusiaan dan kerusakan infrastruktur yang signifikan di wilayah terdampak. Isu ganti rugi perang (war reparations) kini menjadi batu ganjalan baru dalam proses diplomasi. Ketika tuntutan kompensasi material saling dilemparkan oleh kedua pihak yang bertikai, prospek pencapaian kesepakatan damai yang permanen di kawasan Timur Tengah diperkirakan akan menghadapi tantangan yang makin kompleks.