DailyFX.ID — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menunjukkan penguatan signifikan pada pembukaan perdagangan Rabu (23/9/2026). Penguatan ini terjadi menjelang pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang sangat dinanti oleh pasar keuangan.
Pada perdagangan hari ini, rupiah tercatat menguat 89 poin atau 0,5% hingga mencapai level Rp17.795 per dolar AS. Penguatan ini terjadi di tengah ekspektasi pasar yang luas bahwa Bank Indonesia akan mempertahankan suku bunga acuannya di level 5,75% dalam RDG BI yang dijadwalkan September 2026.
Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, memperkirakan bahwa rupiah memiliki peluang untuk melanjutkan tren penguatannya pada perdagangan hari ini. “Rupiah hari ini diperkirakan menguat pada kisaran Rp 17.830 – 17.880 dipengaruhi oleh domestik hasil keputusan RDG BI hari ini yang diperkirakan akan menahan suku bunga acuan di 5,75%,” ungkap Rully dikutip dari Antara, Rabu (23/9/2026).
Sejumlah ekonom memproyeksikan bahwa BI-Rate akan tetap berada di level 5,75% pada RDG BI September 2026. Namun, peluang kenaikan suku bunga masih terbuka pada akhir tahun jika tekanan eksternal semakin persisten dan memburuk.
Eskalasi konflik yang terjadi di Timur Tengah serta perang yang masih berlangsung antara Rusia dan Ukraina telah mendorong sejumlah bank sentral besar dunia untuk meninjau kembali arah kebijakan moneter mereka. Langkah ini termasuk yang diambil oleh The Fed, European Central Bank, dan Bank of Japan.
The Fed sendiri juga telah mengindikasikan bahwa kenaikan suku bunga lebih lanjut masih dapat menjadi salah satu opsi kebijakan yang dipertimbangkan tahun ini, meskipun kondisi pasar tenaga kerja Amerika Serikat saat ini relatif kuat.
Tekanan global yang dihadapi rupiah berasal dari kombinasi kebijakan The Fed yang cenderung lebih hawkish (menaikkan suku bunga), penguatan nilai dolar AS secara umum, ketidakpastian geopolitik yang meningkat, serta harga minyak dunia yang masih bertahan pada level tinggi.
Rully Nova menambahkan bahwa Bank Indonesia diperkirakan akan mempertahankan sikap hawkish-nya untuk menjaga stabilitas nilai rupiah. Hal ini akan dilakukan melalui perluasan instrumen kebijakan moneter dan pasar keuangan yang tersedia.
Instrumen kebijakan yang dimaksud mencakup Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), pasar valuta asing (valas) spot, serta instrumen derivatif seperti Non-Deliverable Forward (NDF) dan swap.
“Dari global, harga minyak menunjukkan tren penurunan mendorong penurunan indeks dolar dan yield obligasi pemerintah AS,” jelas Rully, mengindikasikan adanya faktor eksternal yang turut mempengaruhi pergerakan pasar keuangan global.
Ikuti DailyFX.ID
