— JAKARTA – Nilai tukar rupiah diproyeksikan kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan Jumat, 18 September 2026. Pelemahan ini melanjutkan tren koreksi yang terjadi pada penutupan perdagangan Kamis sore, di mana rupiah ditutup anjlok 57 poin (0,32%) ke level Rp 17.753 per dolar AS.

Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif namun cenderung melemah dengan rentang prediksi di level Rp 17.750 hingga Rp 17.790 per dolar AS untuk perdagangan hari ini.

Menurut Ibrahim, pelemahan rupiah ini dipicu oleh keputusan Federal Reserve (The Fed) yang memangkas suku bunga acuannya ke kisaran 3,75% hingga 4,0%. Kenaikan suku bunga ini merupakan yang pertama kali dilakukan bank sentral AS sejak Juli 2023.

Ketua The Fed, Kevin Warsh, dalam keterangannya menekankan kembali kekhawatiran bank sentral AS terhadap laju inflasi. “Warsh mengisyaratkan kenaikan lebih lanjut pada suku bunga dalam beberapa bulan mendatang,” ujar Ibrahim.

Selain itu, rupiah juga diprediksi masih tertahan di zona merah meskipun konflik di Timur Tengah menunjukkan tanda-tanda mereda. Adanya pembicaraan antara Amerika Serikat dan kelompok Houthi dilaporkan membantu meredakan kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan minyak global.

Dari sisi domestik, Ibrahim menambahkan bahwa rupiah akan terus tertekan seiring meningkatnya risiko tekanan bagi Bank Indonesia. Bank sentral menghadapi ruang kebijakan moneter yang sempit menjelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang dijadwalkan pada 22–23 September mendatang.