— Bank Sentral Amerika Serikat (Federal Reserve/The Fed) baru saja menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin (bps) menjadi rentang 3,75%-4% pada Rabu (16/9/2026). Keputusan ini diperkirakan akan membatasi ruang gerak kebijakan moneter Bank Indonesia (BI).

Chief Economist Bank Danamon, Irman Faiz, memperkirakan bahwa kenaikan 25 bps ini kemungkinan akan menjadi satu-satunya kenaikan suku bunga The Fed hingga akhir tahun 2026. Ia menyoroti bahwa komunikasi dan proyeksi dari The Fed cenderung menunjukkan sikap yang lebih ketat atau hawkish. The Fed masih memperkirakan inflasi utama akan melambat secara substansial hingga mencapai 2,3%-2,5% pada tahun 2027.

“Kami memperkirakan para pembuat kebijakan akan menilai terlebih dahulu apakah dorongan inflasi baru-baru ini, terutama dari energi, melekat pada harga dasar sebelum melakukan pengetatan kembali,” ujar Faiz dalam keterangannya di Jakarta pada Kamis (17/9/2026).

Faiz memprediksi akan terjadi penahanan suku bunga yang berkepanjangan (prolonged hold) ketimbang siklus kenaikan suku bunga yang terus berlanjut. Ekonomi Amerika Serikat yang dinilai tangguh memberikan ruang bagi The Fed untuk mempertahankan kebijakan restriktifnya dalam jangka waktu lebih lama. Di sisi lain, inflasi yang persisten membatasi alasan untuk melakukan pelonggaran kebijakan dalam jangka pendek.

“Meski demikian, risiko cenderung mengarah pada pengetatan lebih lanjut jika inflasi inti, ekspektasi inflasi, atau transmisi harga energi tetap tinggi,” terang Faiz.

Kenaikan suku bunga The Fed ini diperkirakan akan berdampak pada pembatasan ruang kebijakan moneter Bank Indonesia. Faiz menjelaskan bahwa imbal hasil surat utang Amerika Serikat yang lebih tinggi dan penguatan dolar AS berpotensi membatasi arus masuk portofolio investasi asing serta memberikan tekanan pada nilai tukar rupiah. Selain itu, harga minyak yang tinggi juga menambah tekanan melalui jalur perdagangan dan transaksi berjalan.

“Kami mempertahankan perkiraan BI-Rate akhir tahun kami di angka 6,25%, dengan intervensi valas dan langkah-langkah non-suku bunga kemungkinan akan tetap menjadi lini pertahanan pertama,” tutur Faiz.