DailyFX.ID — Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) tengah menghadapi tekanan dari investor asing. Sejak 9 September hingga 21 September 2026, saham emiten bank besar ini terus mencatatkan penjualan bersih oleh investor asing, dengan total akumulasi mencapai Rp 2,47 triliun.
Pada perdagangan Senin, 21 September 2026, saham BBCA kembali melemah 1,19% ke level Rp 6.225. Perdagangan saham ini melibatkan 69,91 juta lembar dengan frekuensi 18.244 kali, menghasilkan nilai transaksi sebesar Rp 436,97 miliar. Dalam sepekan terakhir, saham BBCA tercatat anjlok 4,23%.
CGS International Sekuritas memproyeksikan adanya risiko pelemahan lebih lanjut pada saham BBCA di hari Selasa, 22 September 2026. Support pertama ditetapkan di Rp 6.200, diikuti support kedua di Rp 6.175. Namun, saham BBCA juga memiliki peluang untuk bangkit, dengan resistance pertama di Rp 6.250 dan resistance kedua di Rp 6.275.
Di tengah tekanan pasar, Bank Central Asia (BCA) mencatatkan pencapaian positif pada kinerja keuangan Agustus 2026. Laba bersih (bank only) BCA tercatat sebesar Rp 4,9 triliun, menunjukkan pertumbuhan 13% secara tahunan (year-on-year/yoy).
Pencapaian ini membuat laba bersih (bank only) emiten berkode BBCA tersebut selama delapan bulan pertama 2026 (8M26) mencapai Rp 40,2 triliun, tumbuh 3% yoy. Angka tersebut setara dengan 67% dari estimasi laba konsolidasi 2026 berdasarkan konsensus.
Stockbit Group dalam catatannya menyoroti perbaikan margin bunga bersih (net interest margin/NIM) BCA. Hal ini tercermin dari pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) yang tumbuh 8% yoy pada Agustus 2026, lebih cepat dibandingkan pertumbuhan 4% yoy pada Juli 2026 dan 1% yoy selama 8M26.
Selain margin bunga, kualitas biaya operasional BCA juga tetap terjaga. Beban provisi pada Agustus 2026 turun 65% yoy dan 2% secara bulanan (month-on-month/mom), dengan biaya kredit (credit cost) sebesar 0,3%. Secara kumulatif, credit cost selama 8M26 juga berada di level 0,3%, lebih baik dari panduan manajemen 2026 yang berkisar 0,4–0,5%.
Dari sisi penyaluran dana, kredit BCA tumbuh 2% mom pada Agustus 2026, dengan total kredit mencapai Rp 1.018 triliun atau meningkat 11% yoy. BCA sebelumnya memperkirakan pertumbuhan kredit sepanjang 2026 akan mendekati batas atas target 8–10% yoy.
Stockbit mencatat bahwa akselerasi kredit dan rendahnya beban provisi yang terlihat sejak Juli 2026 menjadi indikator menguatnya aktivitas perekonomian. Tren positif kedua indikator ini berlanjut pada Agustus 2026, menopang akselerasi laba BBCA melalui kombinasi pertumbuhan kredit, perbaikan NII, dan terjaganya biaya kredit.
KB Valbury Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy untuk saham BBCA dengan target harga Rp 9.480. Target harga ini mencerminkan valuasi price to book (P/B) sebesar 3,8 kali untuk proyeksi 2026, sementara saat ini saham BBCA diperdagangkan pada estimasi valuasi P/B 2026 sebesar 2,6 kali.
KB Valbury menilai bahwa meskipun kepercayaan pasar sedang menurun, valuasi tersebut membuka peluang re-rating apabila katalis positif mulai terealisasi. Katalis potensial meliputi pertumbuhan kredit dan imbal hasil kredit yang lebih tinggi dari perkiraan, serta cost of credit yang lebih rendah berkat pencadangan yang terbatas dan perbaikan kualitas aset.
Perbaikan sentimen pasar domestik dan global juga dipertimbangkan sebagai katalis pendukung. Namun, KB Valbury juga mencatat risiko seperti pertumbuhan kredit dan penyesuaian imbal hasil kredit yang lebih rendah dari perkiraan, biaya pendanaan dan CoC yang lebih tinggi, serta penurunan NIM yang lebih dalam dari estimasi.
Selain itu, potensi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat juga menjadi salah satu risiko yang dicermati terhadap proyeksi BCA (BBCA).
Ikuti DailyFX.ID
