DailyFX.ID — JAKARTA – Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) atau BRI mencatat aksi jual bersih oleh investor asing senilai Rp 339,42 miliar pada perdagangan Selasa (22/9/2026). Akibatnya, harga saham bank pelat merah ini anjlok 3,64% ke level Rp 3.180. Dalam perdagangan tersebut, sebanyak 272,88 juta saham BBRI diperdagangkan dengan frekuensi mencapai 54.357 kali, menghasilkan nilai transaksi total Rp 875,35 miliar.
Pergerakan harga saham BBRI memang cenderung negatif sejak 18 September 2026, dengan penurunan mencapai 4,72% dalam sepekan terakhir. Padahal, sebelumnya saham ini sempat menunjukkan performa solid dengan ditutup di zona hijau secara beruntun dari 27 Agustus hingga 3 September 2026.
Analis dari BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) menjelaskan bahwa saham-saham bank besar atau big banks memang menjadi sasaran aksi jual investor asing menyusul tren kenaikan suku bunga global atau global rate hike. Dalam catatan BRIDS hingga 21 September, saham BBRI dan BBCA menjadi yang paling banyak dilepas investor asing, masing-masing dengan net foreign sell Rp 671,17 miliar dan Rp 611,23 miliar.
Selain itu, aksi jual juga terjadi pada saham BBNI senilai Rp 208,01 miliar dan BBRI senilai Rp 122,74 miliar. Secara total, net foreign sell dari keempat big banks tersebut mencapai Rp 1,61 triliun.
BRIDS menilai fenomena ini dipicu oleh kebijakan kenaikan suku bunga global, di mana bank sentral Amerika Serikat (The Fed) menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin dan Bank of Japan (BOJ) juga menaikkan 25 basis poin. Hal ini meningkatkan tekanan risk-off dan mendorong investor asing untuk mengurangi porsi aset di pasar negara berkembang (emerging market).
“Katalis berikutnya adalah Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang dijadwalkan pada 22–23 September. Keputusan mengenai BI Rate sebesar 5,75% akan menjadi perhatian pasar di tengah tekanan terhadap rupiah dan aliran keluar dana asing (foreign outflow),” pungkas BRIDS.
Ikuti DailyFX.ID
