— Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mencatat kenaikan signifikan sebesar 2,87% dan ditutup pada level Rp 3.230 pada perdagangan Jumat (21/8/2026). Pergerakan positif ini turut didukung oleh aksi beli bersih investor asing yang mencapai Rp 628,49 miliar di saham emiten perbankan besar tersebut.

Dalam perdagangan hari itu, sebanyak 349,66 juta saham BBRI berpindah tangan melalui 43.141 kali transaksi, dengan total nilai mencapai Rp 1,13 triliun. Sepanjang pekan lalu, saham BBRI menunjukkan performa yang cukup stabil dengan dua kali penguatan, satu kali pelemahan, dan satu kali stagnan.

Data empat pekan terakhir menunjukkan tren akumulasi oleh investor asing pada saham BBRI. Periode 27 Juli hingga 21 Agustus 2026 mencatat total pembelian bersih asing sebesar Rp 234,5 miliar untuk saham bank pelat merah ini.

Menyikapi pergerakan ini, CGS International Sekuritas memberikan rekomendasi ‘Speculative Buy’ untuk saham BBRI pada Senin (24/8/2026). Perusahaan sekuritas ini menetapkan level support di Rp 3.170 dan menyarankan cutloss jika harga menembus di bawah Rp 3.110. Jika harga bertahan di atas Rp 3.170, potensi kenaikan jangka pendek ke kisaran Rp 3.290-3.350 diperkirakan.

Sementara itu, KB Valbury Sekuritas mempertahankan rekomendasi ‘Buy’ untuk saham BBRI. Perusahaan ini menetapkan target harga Rp 4.010 yang dihitung menggunakan metode *Gordon Growth Model* (GGM).

Target harga tersebut mencerminkan valuasi *price to book value* (P/B) sebesar 1,8 kali untuk proyeksi tahun 2026. Saat ini, saham BBRI diperdagangkan pada valuasi yang dianggap sangat murah, dengan P/B 2026 sebesar 1,2 kali, sedikit di bawah level -2 standar deviasi (-2SD) yang berada di angka 1,5 kali.

Beberapa katalis positif diprediksi dapat mendorong saham BBRI ke depan. Pertumbuhan kredit yang diproyeksikan lebih tinggi dari ekspektasi, ditambah dengan penyesuaian imbal hasil kredit yang moderat, berpotensi membantu *net interest margin* (NIM) melampaui panduan tahun 2026.

Selain itu, potensi *cost of credit* (CoC) yang lebih rendah dari perkiraan seiring perbaikan kualitas aset, juga akan menjadi faktor penting bagi pertumbuhan laba BRI di tahun 2026. Pendapatan non-bunga yang lebih kuat juga diperkirakan dapat menjadi katalis utama bagi pertumbuhan *pre-provision operating profit* (PPOP).

Namun, terdapat pula sejumlah risiko utama yang perlu diwaspadai. Antara lain, pertumbuhan kredit yang lebih lemah dari perkiraan, rasio biaya terhadap pendapatan yang lebih tinggi dari ekspektasi, serta kenaikan pencadangan yang jauh lebih besar dari prediksi. Sentimen negatif domestik yang berlanjut dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah juga berpotensi terus menekan sentimen pasar terhadap saham BBRI.