DailyFX.ID — Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi salah satu primadona bagi investor asing pada perdagangan pekan lalu, periode 18-21 Agustus 2026. Dalam rentang waktu tersebut, saham emiten perbankan ini mencatatkan pembelian bersih (net buy) investor asing senilai Rp 409,05 miliar. Posisi ini menempatkan BBCA di urutan kedua saham dengan net buy asing terbesar, hanya kalah dari saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI).
Performa harga saham BBCA sendiri terbilang positif, menguat 1,57% sepanjang pekan lalu. Pada penutupan perdagangan Jumat (21/8/2026), saham berkode BBCA berada di level Rp 6.450.
Pergerakan positif ini bukan fenomena sesaat. Dalam dua bulan terakhir, yaitu Juli hingga Agustus 2026, saham BBCA secara konsisten diborong investor asing. Total akumulasi net buy investor asing selama periode 1 Juli 2026 hingga 21 Agustus 2026 mencapai Rp 2,14 triliun. Kondisi ini berbanding terbalik dengan beberapa bulan sebelumnya di tahun yang sama, di mana saham BCA cenderung mencatat net sell asing.
Pembagian Dividen Interim dan Pemegang Saham Kunci
Di tengah minat investor asing yang tinggi, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) bersiap membagikan dividen interim kedua untuk tahun buku 2026. Total dividen interim yang akan dibagikan mencapai Rp 3,07 triliun, atau setara dengan Rp 25 per saham. Keputusan ini telah disetujui oleh dewan komisaris berdasarkan hasil rapat direksi pada 19 Agustus 2026.
Jadwal cum date dividen interim BBCA di pasar reguler dan negosiasi ditetapkan pada 28 Agustus 2026. Daftar pemegang saham yang berhak menerima dividen akan ditetapkan pada 1 September pukul 16.00 WIB, dengan pembayaran dividen dijadwalkan pada 16 September 2026.
Beberapa pemegang saham utama yang akan menerima bagian signifikan dari dividen interim ini antara lain PT Dwimuria Investama Andalan, PT Caturguwiratna Sumapala, dan PT Tricipta Mandhala Gumilang. Ketiga entitas ini terafiliasi dengan Grup Djarum.
Dwimuria Investama Andalan, sebagai pemegang saham mayoritas dengan 54,94% saham BBCA, berpotensi menerima jatah dividen sekitar Rp 1,69 triliun. Sementara itu, Caturguwiratna Sumapala dan Tricipta Mandhala Gumilang, yang masing-masing menggenggam sekitar 1,02% dan 1,07% saham, diperkirakan akan menerima dividen masing-masing Rp 31,54 miliar dan Rp 32,83 miliar.
Selain itu, konglomerat Anthoni Salim juga tercatat sebagai pemegang saham BBCA di atas 1%, dengan kepemilikan 1,15% saham. Ia berpeluang memperoleh dividen interim sebesar Rp 35,4 miliar.
Presiden Direktur BCA, Hendra Lembong, menyatakan bahwa pembagian dividen interim ini mempertimbangkan posisi permodalan yang solid, likuiditas yang memadai, pengembangan bisnis, serta kualitas aset yang terjaga. Ia menambahkan bahwa nilai dividen interim yang lebih tinggi dari kuartal sebelumnya mencerminkan kinerja solid perseroan pada semester I-2026, yang diharapkan menjadi apresiasi bagi investor.
Seluruh dividen interim yang dibagikan pada tahun buku 2026 akan diperhitungkan dalam dividen final, yang akan diputuskan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) tahun 2027.
Kinerja Keuangan dan Proyeksi Analis
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencetak laba bersih (bank only) sebesar Rp 35,3 triliun selama periode Januari hingga Juli 2026. Angka ini sejalan dengan ekspektasi analis.
Analis MNC Sekuritas, Victoria Venny, melaporkan bahwa laba bersih BCA hingga Juli 2026 telah memenuhi 58% dari proyeksi MNC Sekuritas untuk tahun 2026 dan 59% dari target konsensus analis. Pertumbuhan laba bersih secara tahunan (year on year/yoy) tercatat sebesar 2%.
Pada Juli 2026 saja, laba bersih BBCA mencapai Rp 5,1 triliun, menunjukkan peningkatan 5% yoy dan 12% secara bulanan (month on month/mom). Pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) BBCA juga meningkat 4% yoy menjadi Rp 7,1 triliun pada Juli 2026, dengan pertumbuhan 6% dibandingkan bulan sebelumnya.
Meskipun demikian, secara kumulatif selama tujuh bulan pertama 2026, NII hanya tumbuh 0,3% yoy. Victoria menjelaskan bahwa pertumbuhan kredit sebesar 8% yoy sebagian besar terkompensasi oleh tekanan pada margin bunga bersih (net interest margin/NIM).
NIM BBCA menunjukkan perbaikan bulanan sebesar 30 basis poin (bps) menjadi 5,5% pada Juli 2026, setelah sempat turun ke 5,2% pada Juni 2026. Namun, secara yoy, NIM selama tujuh bulan pertama 2026 masih turun 20 bps menjadi 5,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Tekanan margin ini masih membatasi laju pertumbuhan pendapatan bunga bersih.
Laba operasional sebelum pencadangan (pre-provision operating profit/PPOP) pada Juli 2026 tercatat Rp 6,5 triliun, meningkat 9% mom namun relatif stabil secara yoy. Peningkatan PPOP ditopang oleh pendapatan non-bunga (non-interest income/non-II) yang naik 18% mom atau 10% yoy, melampaui kenaikan beban operasional sebesar 8% mom atau 20% yoy. Secara kumulatif, PPOP tumbuh moderat 1% yoy.
Rasio biaya terhadap pendapatan (cost to income ratio/CIR) meningkat 56 bps yoy menjadi 29,2%, sejalan dengan kenaikan beban operasional. Dari sisi pendanaan, rasio dana murah dari giro dan tabungan (current account savings account/CASA) terus membaik menjadi 85,4% pada Juli 2026, naik dari 85,2% pada Juni 2026 dan 83,4% pada Juli 2025. Pertumbuhan dana murah ini jauh melampaui penurunan deposito berjangka (time deposits/TD) yang turun 5% yoy.
Rekomendasi Saham BBCA
Berdasarkan analisis tersebut, MNC Sekuritas mempertahankan rekomendasi ‘buy’ untuk saham BBCA dengan target harga Rp 8.700. Target harga ini mencerminkan valuasi price to book value (PBV) sebesar 3,4 kali untuk estimasi tahun 2026 dan 3 kali untuk proyeksi 2027.
Risiko utama yang perlu diwaspadai adalah potensi perlambatan pertumbuhan kredit dan memburuknya kondisi ekonomi makro. Pada penutupan perdagangan Kamis (20/8/2026), saham BBCA ditutup menguat 1,59% ke level Rp 6.400, dengan penguatan 0,39% dalam sepekan terakhir.
Ikuti DailyFX.ID
