DailyFX.ID — Saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mengalami pelemahan sebesar 2,25% dan ditutup pada harga Rp 4.340 pada Selasa (15/9/2026), bertepatan dengan cum date dividen interim perseroan. Perdagangan saham BMRI mencatat frekuensi sebanyak 28.770 kali dengan nilai transaksi mencapai Rp 558,86 miliar, melibatkan 128,31 juta saham. Investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih (net sell) senilai Rp 282,92 miliar pada saham ini.
Pergerakan harga saham BMRI berbalik arah setelah sebelumnya mengalami kenaikan 1,83% pada perdagangan Senin (14/9/2026). PT Bank Mandiri Tbk sendiri akan membagikan dividen interim tahun buku 2026 dengan total nilai Rp 6,16 triliun, atau setara dengan Rp 66 per saham.
Cum date dividen Bank Mandiri (BMRI) di pasar reguler dan pasar negosiasi ditetapkan pada 15 September 2026. Tanggal ini merupakan batas akhir bagi investor untuk membeli saham BMRI agar namanya tercatat sebagai calon penerima dividen. Berdasarkan harga penutupan saham pada Selasa kemarin, yield dividen interim BMRI diperkirakan mencapai sekitar 1,5%.
Selanjutnya, ex date dividen Bank Mandiri di pasar reguler dan pasar negosiasi jatuh pada 16 September 2026. Investor yang membeli saham BMRI pada tanggal tersebut tidak lagi berhak atas dividen interim. Tanggal pencatatan daftar pemegang saham yang berhak menerima dividen interim Bank Mandiri adalah 17 September 2026 pukul 16.00 WIB, dengan tanggal pembayaran dividen dijadwalkan pada 2 Oktober 2026.
Di sisi lain, KB Valbury Sekuritas memproyeksikan laba bersih konsolidasian PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) untuk periode Januari–September 2026 (9M26) akan tumbuh sebesar 16,3% secara tahunan (year on year/yoy). Analis KB Valbury Sekuritas, Akhmad Nurcahyadi, menyebutkan bahwa proyeksi laba bersih 9M26 ini ditopang oleh kinerja laba (bank only) sepanjang Januari–Agustus 2026 (8M26) yang telah mencapai Rp 37,48 triliun, melonjak 22,3% yoy.
Pencapaian laba 8M26 tersebut setara dengan 66,4% dari estimasi KB Valbury untuk keseluruhan tahun 2026 dan 65,4% dari konsensus pasar. Angka ini juga melampaui rata-rata historis periode yang sama, yaitu sebesar 63,4%. “Kami meyakini BMRI masih berpeluang mencatat pertumbuhan laba yang sehat dalam beberapa bulan mendatang,” tulis Akhmad dalam risetnya.
Jika laba bersih Bank Mandiri pada September 2026 diasumsikan sama dengan September 2025 sebesar Rp 4,1 triliun, maka laba bank only pada kuartal III-2026 (Juli–September 2026/3Q26) diprediksi masih dapat tumbuh 9,4% yoy. Secara konsolidasian, KB Valbury memperkirakan laba bersih emiten berkode saham BMRI pada 3Q26 akan mencapai Rp 13,46 triliun, sedikit di bawah konsensus pasar sebesar Rp 13,97 triliun.
Dengan asumsi tersebut, pertumbuhan laba BMRI secara kumulatif pada 9M26 diproyeksikan mencapai 16,3% yoy. Angka ini sedikit di bawah konsensus pasar yang memproyeksikan pertumbuhan 17,7% yoy. Kinerja BMRI juga diperkirakan akan didukung oleh pertumbuhan kredit sebesar 17,6% yoy dan dana pihak ketiga (DPK) yang juga tumbuh 17,6%. Dana murah atau current account and savings account (CASA) tercatat meningkat 8,2%.
Kualitas aset Bank Mandiri dipantau tetap terjaga dengan biaya kredit (cost of credit/CoC) sebesar 0,5%, yang berada di bawah panduan manajemen antara 0,6%-0,8%. Sementara itu, tingkat pengembalian atas ekuitas (return on equity/RoE) mencapai 21,6%, menunjukkan peningkatan 2,9 poin persentase. Namun, tekanan terhadap margin bunga bersih (net interest margin/NIM) diperkirakan masih berlanjut akibat penurunan imbal hasil aset produktif.
KB Valbury Sekuritas merekomendasikan ‘buy’ untuk saham BMRI dengan target harga Rp 5.660. Target harga ini mengindikasikan potensi kenaikan harga saham sebesar 29,8% dari posisi harga terakhir. Valuasi saham BMRI saat ini mencerminkan price to book value (P/B) sebesar 1,8 kali untuk proyeksi tahun 2026, sementara saham BMRI saat ini diperdagangkan pada estimasi valuasi P/B 2026 sebesar 1,4 kali.
Ikuti DailyFX.ID
