— JAKARTA – Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) menjadi sorotan setelah investor asing memborongnya dengan akumulasi net buy sebesar Rp 302,03 miliar sepanjang pekan 3-7 Agustus 2026. Aksi ini berbanding terbalik dengan periode Juli, di mana saham emiten Grup Sinar Mas ini justru selalu mencatat net sell asing.

Pembelian besar-besaran oleh investor asing ini membuat harga saham DSSA melonjak 14,71% pada pekan lalu. Pada penutupan Jumat, 7 Agustus 2026, saham Dian Swastatika Sentosa berada di level Rp 975.

Dian Swastatika Sentosa (DSSA) berencana melakukan pengalihan saham hasil buyback perseroan mulai 10 Agustus 2026 hingga selesai. Sebanyak-banyaknya 9.631.904.000 saham treasuri DSSA, atau maksimal 5% dari total saham yang diterbitkan dan dicatatkan di Bursa Efek Indonesia (BEI), akan dialihkan.

“Pengalihan akan dilakukan pada harga yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku,” ungkap manajemen DSSA. Dengan asumsi harga penutupan Rp 975 per saham, nilai pengalihan ini bisa mencapai Rp 9,3 triliun. Anggota BEI yang ditunjuk untuk pelaksanaan pengalihan saham ini adalah Sinarmas Sekuritas.

Pengamat pasar modal dan pendiri Republik Investor, Hendra Wardhana, menilai kenaikan harga saham DSSA mencerminkan respons positif investor terhadap aksi korporasi yang dinilai mampu meningkatkan kepercayaan pasar. “Bagi investor, langkah tersebut menunjukkan upaya perusahaan dalam mengoptimalkan struktur permodalan sekaligus memenuhi ketentuan regulator terkait pengalihan kembali saham treasuri,” paparnya dikutip Jumat (7/8/2026).

Hendra menjelaskan bahwa pengalihan saham treasuri bukan aksi yang secara langsung meningkatkan nilai fundamental perusahaan. Namun, ini lebih kepada penataan struktur kepemilikan saham agar modal perusahaan dapat dimanfaatkan secara lebih optimal. “Apabila pelaksanaannya dilakukan secara transparan dan tidak menambah tekanan pasokan saham secara signifikan di pasar, maka sentimen yang terbentuk cenderung positif karena menunjukkan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance),” jelas Hendra.

Prospek DSSA

Dari sisi fundamental, prospek DSSA dinilai masih menarik berkat portofolio bisnis yang terdiversifikasi. Bisnis perusahaan mencakup pertambangan batu bara, pembangkit listrik, infrastruktur, hingga bisnis digital seperti pusat data (data center) dan telekomunikasi. Diversifikasi ini membuat kinerja perusahaan tidak hanya bergantung pada satu sektor usaha, sehingga lebih tahan menghadapi fluktuasi harga komoditas.

“Di sisi lain, ekspansi pada bisnis data center dinilai memiliki prospek pertumbuhan jangka panjang yang cukup menjanjikan seiring meningkatnya kebutuhan layanan cloud computing, artificial intelligence (AI), dan transformasi digital di Indonesia. Artinya, valuasi DSSA ke depan tidak hanya ditopang oleh bisnis batu bara, tetapi juga oleh potensi pertumbuhan bisnis digital yang memiliki prospek lebih tinggi,” terang Hendra.

Dari perspektif pasar modal, aksi korporasi seperti pengalihan saham treasuri umumnya dapat meningkatkan kepercayaan investor jika dilakukan dengan mekanisme yang jelas dan tidak menimbulkan kekhawatiran akan bertambahnya tekanan jual di pasar. Investor akan lebih memperhatikan bagaimana perusahaan menjalankan strategi bisnis, menjaga pertumbuhan laba, memperkuat arus kas, serta merealisasikan ekspansi pada sektor-sektor yang memiliki prospek pertumbuhan tinggi.

Selama faktor-faktor tersebut tetap terjaga, sentimen positif terhadap saham DSSA berpotensi terus berlanjut. Secara teknikal, penguatan yang terjadi juga memperbaiki struktur tren jangka pendek saham DSSA. Selama harga mampu bertahan di atas area support terdekat, saham ini masih layak dicermati dengan rekomendasi trading buy.

Target kenaikan pertama berada di level 1.005, sedangkan target berikutnya berada di kisaran 1.115. “Apabila penguatan harga diikuti dengan peningkatan volume transaksi dan mampu menembus area resistance, maka peluang melanjutkan tren kenaikan akan semakin terbuka. Namun demikian, investor tetap disarankan menerapkan manajemen risiko melalui penerapan stop loss secara disiplin, mengingat pergerakan saham masih dipengaruhi oleh sentimen global, dinamika harga komoditas, serta perkembangan aksi korporasi perseroan,” pungkasnya.