DailyFX.ID — JAKARTA – Saham PT Timah Tbk (TINS) ditutup menguat 2,48% ke level Rp 4.130 pada perdagangan Senin, 24 Agustus 2026. Saham emiten Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini kembali mencatatkan pembelian bersih oleh investor asing senilai Rp 99,48 miliar.
Dalam perdagangan tersebut, sebanyak 63,09 juta saham Timah (TINS) diperdagangkan dengan frekuensi mencapai 16.079 kali, menghasilkan nilai transaksi total Rp 261,5 miliar. Dalam kurun waktu tiga bulan terakhir, saham Timah (TINS) telah melonjak 15,36%, didukung oleh pembelian bersih investor asing yang mencapai Rp 1,52 triliun.
Secara teknikal, Phintraco Sekuritas memandang saham Timah masih memiliki potensi untuk naik menuju target harga selanjutnya di level Rp 4.200 dan Rp 4.500.
Sebelumnya, BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) telah mengulas kinerja PT Timah Tbk (TINS) selama semester I-2026. Broker efek ini melaporkan bahwa pendapatan TINS pada enam bulan pertama tahun 2026 mencapai Rp 10,42 triliun, melonjak 247% secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan dengan Rp 4,22 triliun pada periode yang sama di tahun 2025.
Sementara itu, laba bersih atau keuntungan TINS tercatat sebesar Rp 2,71 triliun, mengalami lonjakan signifikan sebesar 805% dari Rp 300 miliar pada semester I-2025. “Ini adalah lonjakan yang luar biasa, bahkan sudah melampaui target yang ditetapkan untuk tahun fiskal 2026,” papar BRIDS dalam risetnya pada Rabu, 29 Juli 2026.
Produksi bijih timah mencapai 12.232 ton Sn, meningkat 75% yoy, dengan volume penjualan logam timah sebesar 10.984 metrik ton (MT), naik 85% yoy. Total aset perusahaan mencapai Rp 16,45 triliun, naik 21% year to date (ytd), dengan ekuitas sebesar Rp 10,55 triliun, naik 25% ytd. Sekitar 97% dari total penjualan berasal dari ekspor, yang didominasi oleh China (48%), India (11%), dan Korea Selatan (10%).
Menurut BRIDS, faktor utama pendorong kinerja gemilang Timah (TINS) adalah harga rata-rata London Metal Exchange (LME) pada semester I-2026 yang mencapai US$ 50.319 per MT, atau naik 56,68% yoy. Harga ini merupakan level premium di pasar global.
“Pasar global saat ini masih mengalami defisit sekitar 5.720 ton, dengan produksi 173.536 ton berbanding konsumsi 179.256 ton per data CRU Tin Monitor,” sebut BRIDS.
BRIDS menyatakan bahwa konfirmasi untuk sisa tahun 2026 hanya memerlukan penyelesaian pengiriman marjinal untuk mencapai target perkiraan (forecast) BRIDS tahun fiskal 2026 sebesar Rp 3,36 triliun. Risiko utama yang masih perlu diwaspadai adalah potensi kenaikan tarif royalti, yang meskipun belum diimplementasikan, memberikan tekanan (overhang) yang cukup besar.
Terkait valuasi TINS, BRIDS menyebutkan rasio Price-to-Earnings (P/E) yang diannualisasi (semester I-2026 dikali dua) saat ini berada di angka 6,7 kali. Angka ini dinilai sangat murah mengingat pertumbuhan laba bersih yang mencapai 805% yoy.
Oleh karena itu, BRIDS merekomendasikan investor untuk melakukan ‘buy’ saham TINS dengan target harga Rp 4.500, yang didasarkan pada asumsi P/E 10 kali untuk tahun fiskal 2026, atau setara dengan minus dua standar deviasi di atas rata-rata historisnya.
Ikuti DailyFX.ID
