— Persediaan minyak global terus terkuras akibat gangguan pasokan yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah dan perang Rusia-Ukraina. International Energy Agency (IEA) melaporkan bahwa stok minyak dunia yang teramati telah anjlok sebanyak 507 juta barel sejak awal perang, dengan penurunan yang semakin tajam terjadi pada bulan Agustus.

Menurut laporan Oil Market Report Edisi September 2026, persediaan minyak global turun 95 juta barel hanya dalam bulan Agustus. Penurunan ini setara dengan sekitar 3,1 juta barel per hari (BPH). Dengan demikian, total persediaan minyak global yang teramati sejak awal konflik telah berkurang rata-rata 2,8 juta BPH.

IEA menyatakan bahwa persediaan selama ini memainkan peran krusial dalam menyeimbangkan pasar minyak global. Namun, penurunan stok yang terus-menerus ini menjadi semakin mengkhawatirkan seiring belum adanya tanda-tanda berakhirnya gangguan pasokan.

“Persediaan sejauh ini memainkan peran penting dalam menyeimbangkan pasar,” tulis IEA dalam laporannya.

Penurunan stok global pada bulan Agustus sebagian besar disebabkan oleh berkurangnya volume minyak yang berada di atas kapal tanker. Laporan IEA mencatat volume minyak di atas kapal tersebut turun 65 juta barel pada Agustus, menyusul serangan kembali terhadap lalu lintas kapal tanker dari Timur Tengah.

Gangguan ini terjadi di tengah terbatasnya arus minyak melalui jalur-jalur strategis di kawasan Timur Tengah. Meskipun aliran minyak mentah melalui Selat Hormuz dilaporkan mulai meningkat dengan dukungan pengawalan militer Amerika Serikat, ekspor produk olahan dan LPG masih berada jauh di bawah level sebelum perang.

Total ekspor minyak dari negara-negara Teluk pada Agustus diperkirakan mencapai sekitar 13 juta BPH, angka ini hampir setengah dari tingkat sebelum perang. Namun, ekspor produk olahan dan LPG masih tertinggal hampir 60%, atau 3,7 juta BPH lebih rendah dibandingkan Februari.

Di sisi lain, persediaan di negara-negara non-OECD juga mengalami penurunan tajam. IEA mencatat stok di kawasan tersebut turun 52 juta barel pada Agustus, dengan China sebagai pemimpin penurunan. Sebaliknya, persediaan negara-negara OECD justru meningkat 23 juta barel. Kenaikan ini terjadi karena penambahan stok komersial yang lebih besar daripada penurunan 19 juta barel pada persediaan pemerintah.

Perbedaan ini mengindikasikan bahwa peningkatan stok komersial di negara-negara OECD belum mampu sepenuhnya menghilangkan tekanan pada persediaan minyak global secara keseluruhan.

Pasokan Makin Seret

Pengurasan stok minyak global berlangsung bersamaan dengan memburuknya prospek pasokan minyak dunia. IEA memangkas proyeksi pasokan minyak global tahun 2026 sebesar 1,3 juta BPH dibandingkan dengan laporan bulan Agustus. Pasokan tahun ini kini diperkirakan rata-rata hanya 100,7 juta BPH, turun 5,7 juta BPH dibandingkan tahun 2025.

Produksi minyak global pada bulan Agustus turun 1,6 juta BPH menjadi 100,1 juta BPH. Lebih dari 10 juta BPH produksi di Teluk Meksiko masih terhenti akibat meningkatnya risiko keamanan.

IEA memperkirakan pemulihan penuh pasokan dari produsen Timur Tengah baru akan terjadi pada tahun 2027. Produksi minyak global diproyeksikan pulih sekitar 8 juta BPH pada tahun depan. Kebuntuan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran, serta serangan baru di Teluk Persia dan titik rawan Bab el-Mandeb di Laut Merah, terus menghambat normalisasi aliran minyak.

Implikasi dari kondisi ini adalah persediaan yang semakin menipis turut memperkuat tekanan harga di pasar minyak. Kontrak berjangka ICE Brent diperdagangkan sekitar US$ 105 per barel saat laporan IEA disusun, naik US$ 21 per barel sejak awal Agustus dan 45% di atas level sebelum perang.

Harga patokan minyak mentah Laut Utara rata-rata mencapai US$ 91 per barel pada bulan Agustus, naik US$ 7,61 per barel dari bulan sebelumnya. Harga ini kemudian melonjak menjadi US$ 113,48 per barel pada 9 September. Pasar minyak mentah juga berada dalam kondisi backwardation ekstrem, yang mencerminkan semakin ketatnya pasokan minyak mentah.

Tekanan bahkan terasa lebih besar pada produk olahan. Harga diesel/gasoil di Amerika Serikat, misalnya, menembus US$ 200 per barel pada awal September, atau 94% lebih tinggi dibandingkan level sebelum perang.

IEA menyebutkan bahwa kelangkaan pasar saat ini paling akut terjadi pada produk olahan. Selisih harga yang semakin lebar antara minyak mentah dan produk olahan bahkan mendorong margin keuntungan kilang ke level rekor di Cekungan Atlantik.

Di tengah gangguan pasokan, persediaan selama ini berfungsi sebagai penyangga agar kebutuhan pasar tetap terpenuhi. Namun, stok yang semakin menipis membuat kemampuan ini semakin terbatas.

Aktivitas pengolahan minyak mentah global juga telah mencapai tingkat tinggi. Kapasitas pengolahan mencapai 81,4 juta BPH pada bulan Agustus, naik 960 ribu BPH dibandingkan bulan sebelumnya, tetapi masih 4,2 juta BPH di bawah level tahun lalu. IEA memperkirakan pengolahan global turun 2,6 juta BPH menjadi rata-rata 81,5 juta BPH pada tahun 2026.

Dengan persediaan yang telah berkurang 507 juta barel sejak awal perang dan sistem penyulingan global yang beroperasi mendekati batas maksimal, IEA memperingatkan bahwa kebutuhan untuk mencapai kemajuan dalam penyelesaian konflik di Timur Tengah dan perang Rusia-Ukraina semakin mendesak.

Langkah tersebut dinilai penting untuk mencegah pengetatan pasar minyak lebih lanjut serta membatasi penurunan permintaan akibat kenaikan harga bahan bakar. “Dengan cadangan yang menyusut dan sistem penyulingan global yang beroperasi hingga batas maksimal, kebutuhan akan kemajuan dalam menyelesaikan konflik di Timur Tengah–dan perang Rusia-Ukraina, yang kini memasuki tahun kelima–lebih besar dari sebelumnya untuk menghindari pengetatan pasar lebih lanjut dan penurunan permintaan,” pungkas IEA.