— JAKARTA – Harga emas dunia diproyeksikan masih akan mengalami fluktuasi, namun analis melihat adanya peluang untuk kembali menguat pada pekan mendatang. Ibrahim Assuaibi, Direktur PT Traze Andalan Futures, memperkirakan level resistance pertama di US$ 4.479 per troy ounce, dengan potensi kenaikan lebih lanjut menuju US$ 4.650 per troy ounce.

Sebaliknya, jika terjadi koreksi, level support pertama berada di US$ 4.245 per troy ounce, dan jika berlanjut, support kedua tercatat di US$ 4.102 per troy ounce. Pergerakan harga emas ini sangat dipengaruhi oleh reaksi pasar terhadap sentimen geopolitik.

Ketegangan Geopolitik Global Pengaruhi Emas

Ibrahim menyoroti memanasnya situasi geopolitik di Eropa Timur, khususnya konflik antara Ukraina dan Rusia yang diperkirakan akan berlangsung lama. “Kita tahu bahwa perang Rusia dan Ukraina itu kemungkinan besar akan lama, bisa saja 3-4 tahun ke depan masih akan terjadi perang karena permasalahan wilayah Ukraina yang dikuasai oleh Rusia. Ini sangat sulit sekali kalau seandainya Ukraina menerima wilayah tersebut masuk dalam wilayah Rusia,” ujarnya.

Selain itu, ketegangan juga meningkat di Timur Tengah akibat saling serang antara Amerika Serikat dan Iran. Ibrahim menyebutkan bahwa peningkatan serangan ini menciptakan tensi geopolitik tertinggi di kawasan tersebut dalam beberapa minggu terakhir.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengindikasikan bahwa konflik dapat berakhir setelah pemilu AS, kemungkinan pada bulan Desember. Dinamika politik AS pada September ini didominasi oleh persiapan menjelang pemilu paruh waktu yang dijadwalkan pada November 2026, di mana kendali atas Dewan Perwakilan Rakyat dan Senat menjadi taruhannya.

Dampak Ekonomi Domestik AS dan Kebijakan Suku Bunga

Ibrahim juga mengungkap bahwa utang nasional Amerika Serikat telah melampaui US$ 40 triliun. Di sisi lain, lonjakan harga minyak mentah dunia secara global telah mendorong harga gasolin melampaui US$ 6 per galon, naik dari sebelumnya US$ 4,8 per galon. Kenaikan harga komoditas ini berdampak signifikan terhadap harga kebutuhan pokok di Amerika dan memengaruhi kebijakan bank sentral.

Menghadapi situasi ini, Ibrahim menegaskan bahwa kemungkinan besar 85% ekonom memprediksi Bank Sentral Amerika akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin dalam pertemuan pekan depan. “Kenaikan suku bunga ini kemungkinan besar akan mempengaruhi pelemahan terhadap harga emas dunia dan ini yang yang paling ditakutkan, kenaikan suku bunga ini berdampak negatif terhadap harga emas,” jelasnya.

Permintaan Emas dari Tiongkok

Meskipun ada potensi pelemahan akibat kenaikan suku bunga, faktor supply and demand juga berperan. Ibrahim mencatat bahwa Bank Sentral Tiongkok terus menambah cadangan emasnya, dengan penambahan sekitar 650 ribu troy ounce pada bulan September, di tengah terjadinya perang yang cukup dahsyat. Hal ini dapat menjadi penyeimbang bagi pergerakan harga emas di pasar global.