DailyFX.ID — Ancaman resesi dapat memberikan tekanan signifikan terhadap kondisi keuangan rumah tangga. Oleh karena itu, persiapan untuk menjaga stabilitas keuangan sebaiknya dilakukan sejak dini, sebelum tekanan ekonomi benar-benar terjadi.
Menjaga stabilitas keuangan cenderung menjadi lebih sulit ketika resesi berlangsung. Setidaknya ada sejumlah faktor yang perlu diantisipasi, mulai dari potensi penurunan suku bunga tabungan hingga risiko kehilangan pendapatan.
Pertama, suku bunga tabungan berpotensi menurun saat resesi berlangsung. Untuk merangsang perekonomian dan mendorong pengeluaran, bank sentral seperti Bank Indonesia (BI) sering kali memangkas suku bunga acuan. Ketika suku bunga acuan turun, biaya pinjaman menjadi lebih murah. Di sisi lain, bunga pada rekening simpanan, seperti tabungan dan deposito, juga dapat ikut menurun. Kondisi tersebut membuat pertumbuhan dana yang disimpan menjadi lebih lambat.
Kedua, pendapatan berpotensi stagnan. Selama resesi, tingkat pengangguran dapat meningkat dan pertumbuhan upah cenderung melambat. Kondisi tersebut dapat mengurangi peluang kenaikan gaji. Risiko yang lebih buruk adalah perusahaan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK), sehingga seseorang kehilangan sumber pendapatannya.
Ketiga, lembaga jasa keuangan (LJK), seperti bank, perusahaan multifinance, dan fintech p2p lending, dapat memperketat standar penyaluran pinjaman. Dalam kondisi resesi, lembaga pemberi pinjaman biasanya menerapkan persyaratan yang lebih ketat. Akibatnya, masyarakat dapat lebih sulit memenuhi syarat untuk memperoleh kredit atau pinjaman baru.
Kondisi tersebut menjadi alasan penting untuk bersikap proaktif dalam melindungi tabungan dari dampak resesi sedini mungkin. Untuk meminimalkan dampak resesi terhadap kondisi finansial, berikut sejumlah langkah yang dapat dilakukan.
1. Tinjau Ulang Anggaran
Periksa kembali anggaran dan pengeluaran untuk mengidentifikasi pos yang masih dapat dihemat. Langkah ini sebaiknya dilakukan sejak sekarang. Misalnya, dengan membatalkan layanan atau langganan yang tidak diperlukan, mengurangi jumlah layanan streaming yang digunakan, serta menyusun daftar belanja agar pengeluaran yang selama ini menguras anggaran dapat ditekan. Jika kondisi keuangan terbatas, langkah penghematan yang lebih drastis mungkin diperlukan. Misalnya, membekukan sementara sejumlah pos belanja atau mempertimbangkan tinggal di tempat kos bersama dibandingkan tinggal sendiri.
2. Bangun Dana Darurat
Dana darurat juga perlu mulai dibangun. Meski telah disiplin menerapkan anggaran, pengeluaran tidak terduga tetap dapat muncul. Anggota keluarga sakit, kendaraan mogok, hingga peralatan rumah tangga seperti kulkas rusak dapat menimbulkan biaya tambahan yang sulit ditutup. Dalam kondisi tersebut, seseorang sering kali berakhir dengan mengajukan utang baru. Dana darurat, yang disimpan dalam rekening terpisah, berfungsi sebagai jaring pengaman di saat-saat seperti itu. Dengan memiliki dana tersebut, kebutuhan mendadak dapat ditangani tanpa harus mengambil utang yang tidak diperlukan. Banyak pakar menyarankan dana darurat setara dengan tiga hingga enam bulan total pengeluaran. Namun, hal terpenting adalah mulai menabung dan membangunnya meski dari nominal kecil. Alokasi dana untuk membangun dana darurat tersebut dapat ditambah secara bertahap seiring waktu.
3. Pindahkan Sebagian Dana ke Simpanan Berbunga Tinggi
Untuk memaksimalkan imbal hasil tabungan, sebagian dana tunai dapat ditempatkan pada rekening berbunga tinggi atau high-yield savings account (HYSA). Secara nasional, rata-rata suku bunga tabungan berada di bawah 1%. Karena itu, dana tabungan dapat dioptimalkan dengan memilih rekening yang menawarkan bunga lebih tinggi. Selain rekening tabungan, dana juga dapat dialokasikan ke deposito dengan rata-rata bunga saat ini sekitar 4%. Sebagai alternatif, sejumlah bank digital menawarkan tingkat bunga yang lebih tinggi. Namun, produk dengan tingkat bunga tersebut perlu diperhatikan dari sisi risiko, termasuk kemungkinan tidak dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).
4. Lunasi Utang
Melunasi utang berbunga tinggi merupakan salah satu langkah finansial yang dapat dilakukan untuk memperkuat kondisi keuangan. Kartu kredit dapat mengenakan suku bunga hingga dua digit. Demikian pula kredit mobil atau pinjaman pribadi dapat menjadi mahal dalam lingkungan suku bunga tinggi. Dengan membayar lebih banyak terhadap saldo utang, beban bunga yang harus dibayar dapat ditekan sekaligus mempercepat pelunasan utang.
Ikuti DailyFX.ID
