— Kenaikan suku bunga yang dilakukan oleh sejumlah bank sentral utama dunia belum tentu berdampak pada peningkatan imbal hasil riil. Jika laju inflasi bergerak lebih cepat atau bahkan melampaui kenaikan suku bunga nominal, suku bunga riil berpotensi tetap negatif. Kondisi ini dinilai justru menguntungkan bagi aset seperti emas dan bitcoin (BTC).

Head of Research Pluang, Jason Gozali, menjelaskan bahwa investor perlu mencermati kebijakan moneter tidak hanya dari besaran suku bunga nominal. Menurutnya, daya beli riil merupakan faktor krusial, terutama ketika Federal Reserve (The Fed), European Central Bank (ECB), dan Bank of Japan (BOJ) berada dalam siklus pengetatan moneter.

Bank-bank sentral global belakangan ini menaikkan suku bunga sebagai respons terhadap tekanan inflasi yang meningkat. Sebagai contoh, BOJ menaikkan target suku bunga menjadi 1,25%, yang merupakan level tertinggi dalam 31 tahun terakhir.

Jason memaparkan, apabila inflasi di Amerika Serikat (AS) dan secara global naik dengan kecepatan yang sama atau lebih tinggi dibandingkan suku bunga, pemegang uang tunai maupun obligasi berpotensi mengalami kerugian riil. Meskipun nilai nominal aset tersebut meningkat, kemampuan belinya bisa jadi menurun.

Situasi ini dikenal sebagai financial repression, sebuah kondisi di mana inflasi membantu mengikis nilai riil utang pemerintah tanpa diiringi pembayaran bunga riil yang setara tingginya.

“Bagi investor biasa, skenario terjadinya suku bunga riil negatif seperti ini justru situasi paling menguntungkan bagi emas dan bitcoin (BTC),” ujar Jason di Jakarta, Senin (21/9/2026).

Ia menambahkan, emas dan bitcoin tidak memiliki biaya bunga, sehingga tidak mengalami kerugian riil dengan mekanisme yang sama seperti memegang uang tunai atau obligasi ketika inflasi melampaui tingkat bunga yang berlaku.

Pluang tetap mempertahankan target harga untuk emas sebesar US$ 5.200 dan bitcoin (BTC) sebesar US$ 100.000 dalam kurun waktu 12 bulan ke depan.

“Kami melihat skenario financial repression sebagai salah satu tesis paling kuat yang mendukung alokasi ke aset non-yield dalam beberapa tahun ke depan,” ungkap Jason.

Dengan demikian, arah pergerakan suku bunga riil, bukan sekadar besaran kenaikan bunga nominal, menjadi variabel penting yang perlu dicermati oleh investor dalam membaca prospek pergerakan harga emas dan bitcoin.