— JAKARTA – Tekanan terhadap daya beli masyarakat kelas menengah serta kelompok menuju kelas menengah (aspiring middle class) diproyeksikan tidak hanya mengubah perilaku konsumsi masyarakat, tetapi juga berpotensi memicu efek domino berlapis terhadap fondasi pertumbuhan ekonomi nasional.

Pengamat ekonomi dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy mengungkapkan, dampak penurunan daya beli ini akan merambat secara sistematis mulai dari penurunan penjualan ritel hingga ke sektor riil lainnya. “Dampaknya akan merambat secara berlapis mulai dari sektor ritel hingga ke fondasi pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Penjualan ritel khususnya kategori non-esensial dan merek premium berpotensi mengalami pelemahan yang semakin nyata karena rumah tangga terus melakukan downtrading dan menunda pembelian barang yang bisa ditangguhkan,” ujar Yusuf Rendy, Senin (10/8/2026).

Sektor Kuliner dan Manufaktur Turut Tertekan

Selain sektor ritel, industri makanan dan minuman turut menerima pukulan cukup berat. Penurunan frekuensi makan di luar rumah (dining out) oleh konsumen bakal menggerus omzet pelaku usaha hingga mengganggu rantai pasok pendukung di belakangnya. “Restoran dan industri jasa makan minum akan merasakan tekanan yang lebih dalam sebab konsumsi di luar rumah yang sudah dikurangi cenderung semakin ditekan, sehingga omzet menurun dan rantai pasok pendukungnya ikut tergerus,” tegasnya.

Di sisi lain, industri manufaktur barang kebutuhan pokok (fast-moving consumer goods) dipaksa memutar otak untuk mempertahankan volume penjualan. Meskipun angka penjualan dapat dijaga melalui strategi peluncuran kemasan lebih kecil (sachetization) atau varian hemat, margin keuntungan perusahaan dipastikan tergerus akibat kompetisi harga yang kian ketat. “Industri barang konsumsi sendiri harus menghadapi margin yang lebih tipis sekalipun volume penjualan mungkin masih bisa dipertahankan melalui kemasan lebih kecil atau varian hemat, karena tekanan harga jual yang lebih rendah memaksa perusahaan berkompetisi lebih ketat dan memangkas biaya,” pungkas Yusuf.

Ancaman terhadap PDB dan Risiko Utang Digital

Mengingat konsumsi rumah tangga merupakan penopang utama pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, perlambatan di sektor ritel, restoran, dan barang konsumsi secara otomatis akan mengerem laju pertumbuhan ekonomi nasional melalui efek pengganda (multiplier effect), termasuk pada penyerapan tenaga kerja, jasa transportasi, hingga industri periklanan.

Yusuf juga menyoroti risiko struktural dari maraknya penggunaan fasilitas kredit instan seperti paylater dan pinjaman daring (pinjol) untuk memenuhi kebutuhan harian. Jika pendapatan riil masyarakat terus stagnan, beban utang rumah tangga dikhawatirkan melonjak tajam dan memicu masalah finansial baru. Ia menyimpulkan bahwa meskipun efisiensi dan inovasi produk terjangkau oleh pelaku industri dapat meredam sebagian dampak negatif, ruang gerak dunia usaha tetap sangat terbatas selama pendapatan riil dan daya beli masyarakat kelas menengah tidak segera dipulihkan oleh pemerintah.

Masyarakat kelas menengah dan aspiring middle class merupakan tulang punggung utama perekonomian Indonesia, mengingat konsumsi rumah tangga secara konsisten menyumbang lebih dari 50% terhadap PDB. Kelompok masyarakat ini memiliki peran strategis sebagai penggerak roda bisnis berbagai sektor, mulai dari ritel, otomotif, properti, hingga jasa perbankan dan pariwisata. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, kelompok ini menghadapi tekanan ekonomi yang cukup berat akibat lonjakan harga kebutuhan pokok, kenaikan biaya pendidikan dan kesehatan, serta laju pertumbuhan gaji riil yang stagnan.

Tanpa adanya jaring pengaman sosial yang memadai layaknya kelompok masyarakat miskin, kelas menengah terpaksa menguras tabungan atau mengandalkan instrumen utang jangka pendek demi mempertahankan standar hidup. Kondisi ini menuntut kebijakan fiskal yang lebih berpihak pada penciptaan lapangan kerja berkualitas dan menjaga stabilitas harga guna menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.