— Bank Sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve (The Fed), diprediksi akan menaikkan suku bunga acuannya untuk pertama kali dalam tiga tahun terakhir. Keputusan ini diambil guna menekan laju inflasi yang terus tinggi, meskipun berlawanan dengan permintaan Presiden AS Donald Trump yang menginginkan penurunan suku bunga.

Mayoritas analis dan ekonom memperkirakan The Fed tidak akan menurunkan suku bunga dari posisi saat ini yang berada di kisaran 3,6%. Ketahanan inflasi, yang dipicu oleh eskalasi konflik di Iran dan lonjakan harga energi, menjadi alasan utama penguatan proyeksi kenaikan tersebut. Laporan Associated Press pada Selasa (15/9/2026) mengonfirmasi prediksi ini.

Sinyal pengetatan kebijakan moneter menguat setelah Ketua Dewan Gubernur The Fed, Kevin Warsh, menyampaikan pidato pada konferensi tahunan bank sentral di Jackson Hole, Wyoming. Warsh menegaskan bahwa The Fed belum mencapai target utamanya dalam mengendalikan laju kenaikan harga-harga di tingkat konsumen.

Ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah telah mendorong kenaikan harga minyak dan gas, yang memperbesar risiko inflasi menembus target 2% dalam jangka waktu lebih lama. Selain itu, besarnya investasi pada infrastruktur pusat data kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) juga berkontribusi pada kenaikan laju inflasi serta suku bunga jangka panjang.

Rencana kenaikan suku bunga ini muncul hanya tujuh minggu sebelum pemilihan sela (midterm elections) di AS. Isu keterjangkauan harga kebutuhan pokok menjadi perhatian utama para pemilih. Presiden AS Donald Trump secara terbuka telah meminta The Fed untuk menurunkan suku bunga, dengan klaim bahwa AS seharusnya menikmati tingkat suku bunga terendah di dunia.

Meskipun demikian, penasihat ekonomi utama Gedung Putih, Kevin Hassett, menyatakan menghormati independensi The Fed. Hassett menyarankan agar bank sentral menghindari kenaikan suku bunga yang terlalu dekat dengan momentum pemilu.

Para pelaku pasar keuangan diperkirakan akan mengabaikan peringatan politik tersebut. Data pasar berjangka menunjukkan probabilitas sebesar 90% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga acuannya.

Kredibilitas Kelembagaan dan Proyeksi Pasar

Sejumlah ekonom menilai tindakan tegas menaikkan suku bunga diperlukan untuk menjaga kredibilitas kelembagaan The Fed di mata pelaku pasar modal. Jika The Fed menunda pengetatan di tengah laju inflasi yang membandel, suku bunga jangka panjang seperti surat utang pemerintah tenor 10 dan 30 tahun berisiko melonjak tajam akibat kekhawatiran investor.

Pasar keuangan di Wall Street kini mengantisipasi skenario tiga kali kenaikan suku bunga berturut-turut, yaitu pada periode September 2026, Desember 2026, dan Maret 2027. Langkah ini dipandang sebagai bentuk manajemen risiko untuk memastikan inflasi benar-benar bergerak melandai menuju target yang ditetapkan.

Hubungan antara Gedung Putih dan The Fed kerap dibayangi dinamika politik, terutama saat kondisi ekonomi domestik mengalami ketidakpastian. Secara historis, The Fed dirancang sebagai lembaga independen agar keputusan kebijakan moneter bebas dari campur tangan politik jangka pendek.

Tekanan politik terhadap bank sentral cenderung menguat menjelang pemilu, di mana suku bunga rendah sering dianggap dapat menggairahkan ekonomi dan menguntungkan pemilih. Namun, tugas utama The Fed untuk menjaga stabilitas harga dan porsi kesempatan kerja penuh sering kali menuntut keputusan yang tidak populer, seperti menaikkan suku bunga saat inflasi melonjak.

Tantangan bagi The Fed makin kompleks karena sebagian pemicu inflasi saat ini, seperti konflik geopolitik global dan lonjakan harga komoditas energi, berada di luar kendali langsung kebijakan moneter. Konflik kepentingan antara stabilitas moneter jangka panjang dan ekspektasi politik jangka pendek ini menjadi salah satu dinamika paling krusial dalam perekonomian AS.