— Pemerintah Amerika Serikat (AS) dilaporkan menolak permintaan dukungan udara dari Arab Saudi dalam menghadapi serangan gerakan militer-politik Houthi yang menguasai wilayah utara Yaman. Penolakan ini terjadi karena fokus utama pertahanan AS saat ini tertuju pada dinamika konflik dengan Iran.

Otoritas Arab Saudi sebelumnya mengajukan permohonan bantuan perlindungan udara kepada AS guna menahan laju serangan Houthi. Namun, pemerintah AS menyampaikan ketidaktersediaannya untuk melakukan intervensi militer udara secara langsung di Yaman.

Meskipun demikian, seorang pejabat senior dalam pemerintahan Presiden AS Donald Trump menegaskan saluran komunikasi diplomatik dan koordinasi dengan pihak Arab Saudi tetap terjalin erat. Sikap enggan AS untuk terlibat langsung dalam operasi serangan udara sejalan dengan keputusan Trump yang menolak permintaan Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman Al Saud, untuk melancarkan serangan udara terhadap posisi Houthi di Yaman.

Kendati menolak memberikan bantuan dukungan udara langsung, pihak AS tetap memberikan bentuk dukungan lain. Lebih dari 100 penasihat militer AS dilaporkan telah tiba di Arab Saudi untuk membantu militer Riyadh dalam merencanakan serta mengelola kampanye militer menghadapi pergerakan pasukan Houthi.

Pemicu Eskalasi dan Pergerakan Militer Houthi

Eskalasi pertempuran di Yaman kembali membara sejak pertengahan Juli 2026, dipicu oleh serangan pasukan pro-pemerintah terhadap Bandara Internasional Sana’a. Serangan tersebut terjadi saat sebuah pesawat asal Iran yang membawa delegasi pimpinan Houthi sedang melintas dan mendarat di ibu kota Yaman.

Kelompok Houthi menuding Arab Saudi berada di balik serangan tersebut dan secara resmi menyatakan perang. Mereka menegaskan tidak akan menghentikan konfrontasi militer sebelum blokade di wilayah-wilayah yang mereka kuasai dicabut sepenuhnya.

Dalam sepekan terakhir, Houthi mencatatkan kemajuan militer yang signifikan di wilayah barat daya dan barat Yaman. Kelompok ini berhasil menguasai kawasan pesisir Laut Merah serta beberapa kawasan pemukiman di sekitar Selat Bab el-Mandeb, termasuk merebut pelabuhan strategis Mokha.

Kondisi geopolitik di kawasan Semenanjung Arab dan Timur Tengah tengah berada dalam fase yang sangat krusial. Keputusan AS untuk membatasi keterlibatan militer langsungnya di Yaman mencerminkan prioritas strategi pertahanan AS yang lebih berfokus pada dinamika keamanan terkait Iran.

Di sisi lain, keberhasilan kelompok Houthi menguasai kawasan pesisir Laut Merah dan wilayah di sekitar Selat Bab el-Mandeb membawa dampak signifikan bagi stabilitas keamanan global. Selat Bab el-Mandeb merupakan salah satu titik hambatan (chokepoint) pelayaran paling vital di dunia yang menghubungkan Laut Merah dengan Terusan Suez dan Samudra Hindia.

Kemajuan militer Houthi di wilayah pesisir barat daya Yaman memicu kekhawatiran baru terhadap kelancaran arus lalu lintas kapal kargo internasional serta pasokan energi global yang melintasi jalur perairan strategis tersebut.