— JAKARTA – BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan tiga saham untuk diperdagangkan pada Rabu, 16 September 2026, yaitu PT Merdeka Copper Gold Tbk (AMMN), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), dan PT Indo Acidatama Tbk (SRSN).

Untuk saham AMMN, analis menilai harganya masih berada dalam fase bullish continuation setelah berhasil menembus neckline di level 4.550 dan resistance 4.920. Rata-rata pergerakan harga 20 hari (MA20) juga menanjak dan berfungsi sebagai support dinamis. Indikator MACD tetap bullish, memberikan peluang kenaikan lebih lanjut ke rentang 5.206-5.380, dengan support di 4.920. Selama sebulan terakhir, investor asing mencatatkan pembelian bersih (net buy) senilai Rp 281 miliar di pasar reguler untuk saham ini.

Selanjutnya, saham BRMS terpantau berhasil rebound dari area support 700-656 dan kembali berada di atas MA20 di level 711. Kondisi ini mengindikasikan potensi kelanjutan tren bullish menuju resistance 750 dan 780. MACD masih menunjukkan sinyal bullish dengan histogram yang mulai membaik.

Peningkatan bobot saham ARCI, AMMN, dan BRMS dalam indeks, seiring dengan kenaikan free-float, diproyeksikan akan mendatangkan aliran dana masuk (inflow) masing-masing sebesar US$ 3 juta, US$ 43 juta, dan US$ 37 juta.

Sementara itu, saham SRSN menunjukkan pergerakan positif dengan berhasil rebound dari area support 88-95 dan kembali menguji resistance di 108. Momentum bullish masih terjaga di atas MA20 dan MA200. Jika mampu menembus resistance 108 disertai volume transaksi yang signifikan, saham ini berpotensi melanjutkan kenaikan ke level 113-118.

Dari sisi kinerja keuangan, PT Indo Acidatama Tbk (SRSN) mencatatkan laba bersih sebesar Rp 43,16 miliar pada kuartal II-2026, mengalami peningkatan signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp 15,04 miliar.

Prediksi IHSG

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami tekanan dan ditutup melemah 1,13% ke level 6.461,15 pada Selasa (15/9/2026). Pelemahan terjadi setelah sempat menguat ke 6.549,60 namun berbalik arah hingga menyentuh 6.461,01.

Sektor energi dan keuangan menjadi penyumbang utama pelemahan, masing-masing terkoreksi 2,44% dan 1,56%. Hal ini seiring dengan kenaikan harga minyak dunia ke level US$ 102,65 untuk WTI dan US$ 106,93 untuk Brent, serta pelemahan nilai tukar Rupiah yang kembali ke Rp 17.694 per dolar Amerika Serikat. Kenaikan imbal hasil surat utang Amerika Serikat (UST 10Y) ke kisaran 5% turut memberikan tekanan tambahan terhadap aset di pasar negara berkembang.

Sentimen domestik selanjutnya akan tertuju pada kebijakan awal Menteri Keuangan, Suahasil Nazara, khususnya langkah-langkah untuk menjaga kredibilitas fiskal dan stabilitas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Sementara itu, dari pasar global, perhatian utama tertuju pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang berlangsung 15-16 September waktu Amerika Serikat (16-17 September WIB). Probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) mencapai 92,4%.

Pasar akan mengalihkan perhatian pada panduan (guidance) The Fed selanjutnya, terutama potensi kebijakan suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama (higher-for-longer) di tengah harga minyak yang masih di atas US$ 100 per barel dan imbal hasil UST 10Y yang berada di sekitar 5%.

Secara teknikal, IHSG telah menembus MA20 di level 6.548 dan keluar dari pola rising wedge. Indikator MACD juga mencatatkan bearish crossover, yang mengindikasikan momentum pelemahan masih berlanjut.

“IHSG berpotensi melanjutkan pengujian support di level 6.390, dengan 6.220 sebagai support berikutnya. Sementara itu, untuk terjadi rebound, IHSG perlu melewati level 6.585 terlebih dahulu guna membuka peluang kembali menguji 6.705,” demikian tulis BRI Danareksa Sekuritas dalam ulasannya, Rabu (16/9/2026).

Pada perdagangan kemarin, indeks di bursa Wall Street juga ditutup melemah. Dow Jones Industrial Average melemah 0,63% ke level 52.093,1. Indeks S&P 500 turun 0,45% ke 7.585,7, dan Nasdaq Composite terkoreksi 0,78% menjadi 25.981,5.