DailyFX.ID — WASHINGTON – Sebuah taktik evakuasi rahasia yang melibatkan truk katering untuk Donald Trump saat berada di Turki menuai kritik tajam dari kalangan jurnalis Amerika Serikat. Operasi yang diduga sebagai upaya penyamaran ini menimbulkan kekhawatiran bahwa jurnalis dan staf Gedung Putih dijadikan tameng di tengah potensi ancaman serangan rudal Iran.
Menurut laporan The Washington Post pada Rabu (12/8/2026), insiden ini terjadi pada 8 Juli 2026, sesaat setelah pesawat kepresidenan Air Force One mendarat di Turki. Tim keamanan dilaporkan mengevakuasi Trump dari pesawat tersebut untuk menghindari ancaman pembunuhan yang dinilai kredibel.
Trump terpantau naik ke Air Force One di hadapan awak media, namun kemudian dikabarkan turun kembali melalui kontainer kargo katering di bagian belakang pesawat. Ia kemudian dipindahkan ke pesawat militer AS yang lebih kecil yang telah bersiaga di dekat lokasi.
Sekitar selusin jurnalis yang berada di kompartemen terpisah di Air Force One dilaporkan tidak menyadari adanya perpindahan tersebut. Mereka tetap melanjutkan penerbangan meninggalkan Turki dengan pesawat utama, tanpa menyadari adanya peningkatan risiko keamanan dari pihak Iran yang tengah berkonflik dengan AS.
Langkah ini sontak menimbulkan kemarahan di kalangan jurnalis peliput Gedung Putih. Mereka merasa telah ditipu dan dijadikan umpan tanpa persetujuan mereka.
“Ketika Anda bekerja untuk Gedung Putih, bahkan sebagai warga sipil, bagian dari tugas Anda mungkin melindungi presiden. Tapi itu bukan tugas saya. Tugas saya meliput presiden. Jurnalis memang mengambil risiko dalam tugasnya, tetapi bukan atas nama keamanan presiden,” ujar salah satu wartawan Gedung Putih yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Selama penerbangan, awak media sempat diminta oleh Secret Service untuk menutup seluruh tirai jendela saat lepas landas. Instruksi yang tidak biasa ini terjadi di luar wilayah konflik militer aktif. Ketika ditanya oleh wartawan mengenai alasan di balik instruksi tersebut, Trump sempat menanggapi dengan nada bercanda, “Sebab kalian mungkin berada dalam penerbangan yang berbahaya… Jika saya pergi, kalian juga ikut, bukan?”
Pihak Gedung Putih belum memberikan tanggapan resmi terkait manuver pertukaran pesawat tersebut. Namun, Direktur Komunikasi Gedung Putih, Steven Cheung, menekankan bahwa AS menghadapi berbagai ancaman dan akan terus berupaya maksimal demi melindungi keselamatan presiden.
Penggunaan pesawat penyamaran atau taktik pengalihan untuk pimpinan tertinggi Amerika Serikat bukanlah hal yang sepenuhnya baru. Presiden Bill Clinton pernah bertukar pesawat saat melakukan perjalanan dari India ke Pakistan pada tahun 2000 demi alasan keamanan. Demikian pula, kunjungan mendadak Joe Biden ke Ukraina pada 2023 juga dilakukan di bawah kerahasiaan yang ketat.
Namun, insiden di Turki ini memicu kontroversi etis dan keamanan yang signifikan, terutama mengingat memanasnya konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran sejak awal 2026. Keputusan untuk membiarkan rombongan pers tetap berada di dalam pesawat utama yang berpotensi menjadi sasaran empuk dinilai melampaui standar protokol pertukaran pesawat kepresidenan yang pernah dilakukan sebelumnya.
Ikuti DailyFX.ID
