— Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kembali menegaskan penolakannya terhadap rencana terbaru Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk Gaza. Pernyataan ini disampaikan kepada pemerintahan sayap kanannya pada Minggu (9/8/2026), meskipun militer Israel secara efektif telah menghentikan serangan di wilayah tersebut di bawah tekanan Trump.

Netanyahu menghadapi tekanan menjelang pemilu pada 27 Oktober 2026, di mana elektabilitasnya dilaporkan melemah. Ia berada di antara dua pihak: menteri-menteri sayap kanan yang tidak senang dengan konsesi di Gaza, dan Trump, sekutu militer utama Israel, yang menginginkan kemajuan menuju penyelesaian konflik melalui peta jalan baru yang terdiri dari 15 poin.

Israel telah mengurangi intensitas serangan di Gaza sejak Senin (3/8/2026). Hal ini terjadi setelah Nikolay Mladenov, utusan Gaza untuk Board of Peace bentukan Trump yang mengawasi gencatan senjata, bertemu dengan Netanyahu. Sebuah sumber yang memahami posisi Israel menyatakan bahwa militer hanya akan bertindak terhadap ancaman langsung di Gaza dan tidak lagi melakukan pembunuhan terarah yang sebelumnya hampir dilakukan setiap hari.

Mladenov pada Minggu mengatakan bahwa pembahasan mengenai peta jalan baru tersebut masih terus berlangsung.

Beda Pendapat soal Waktu Pelaksanaan

Trump bulan lalu mengumumkan adanya terobosan dalam rencananya untuk mengakhiri perang. Disebutkan bahwa baik Israel maupun Hamas telah menyetujuinya, dengan ketentuan pasukan Israel akan ditarik mundur ketika Hamas melucuti senjatanya. Pasukan Stabilisasi Internasional kemudian akan bekerja sama dengan kepolisian Palestina yang baru untuk mengamankan wilayah tersebut.

Namun, segera muncul persoalan terkait jadwal pelaksanaan rencana tersebut. “Israel tidak menerima dokumen 15 poin itu,” kata Netanyahu pada awal pertemuan dengan para menteri kabinet, mengutip Reuters. Ia menegaskan bahwa militer Israel “tidak akan melakukan penarikan apa pun sampai Hamas dilucuti senjatanya… itu berarti senjata berat, senjata ringan, semua senjata.”

Netanyahu sebelumnya menyampaikan pernyataan serupa melalui media sosial pada Selasa (4/8/2026). Para pejabat Israel juga telah menyampaikan keberatan mereka kepada Washington. Netanyahu menambahkan bahwa Israel masih berdialog dengan AS mengenai rencana tersebut. “Mereka, Amerika Serikat, memiliki gagasan. Beberapa di antaranya dapat kami terima dan beberapa lainnya tidak dapat kami terima, dan kami tahu bagaimana bersikap tegas terhadap hal-hal tersebut,” ujarnya.

Dalam sebuah wawancara dengan N12 News Israel, Mladenov menyatakan bahwa Israel akan diwajibkan menarik pasukannya “sektor demi sektor” setelah senjata Hamas diambil dan dibuat tidak dapat digunakan. Pejabat senior Hamas, Basem Naim, mengatakan kepada Reuters pada Minggu bahwa kelompoknya tetap berkomitmen terhadap peta jalan yang disepakati di Kairo 10 hari sebelumnya. “Kami berharap para mediator dan penjamin dari AS menekan Netanyahu dan pemerintahannya agar mematuhi peta jalan serta tidak menghambat proses karena alasan politik domestik dan pemilu,” katanya.

Menteri Keuangan Israel dari kelompok sayap kanan jauh, Bezalel Smotrich, memuji sikap Netanyahu. “Kami pergi berperang dengan satu tujuan utama: menghancurkan Hamas,” katanya dalam sebuah pernyataan. “Militer tidak boleh mundur bahkan satu milimeter pun dari Jalur Gaza.”

Trump bulan lalu menyatakan Hamas, kelompok yang menguasai Gaza selama hampir dua dekade sebelum melakukan serangan ke Israel pada 7 Oktober 2023 yang memicu perang Gaza, telah setuju menyerahkan senjatanya. Namun, Hamas sendiri menghindari penggunaan istilah “pelucutan senjata”. Kelompok tersebut mengatakan telah setuju menyerahkan senjata untuk disimpan di bawah pemerintahan teknokrat Palestina yang didukung AS, yang akan mengelola Gaza di bawah pengawasan Board of Peace bentukan Trump.

Hamas menyebut menerima rencana tersebut untuk mencegah dimulainya kembali perang. Namun, kelompok itu menambahkan bahwa pelaksanaan kesepakatan bergantung pada Israel terlebih dahulu memenuhi komitmennya sendiri, termasuk menarik pasukan dan menghentikan serangan. Israel sebelumnya berjanji memburu militan yang terlibat dalam serangan Oktober 2023 sebelum menghentikan serangan terarah pada Senin.

Sejak gencatan senjata yang dimediasi AS tercapai pada Oktober 2025, lebih dari 1.250 orang tewas dalam serangan Israel, sebagian besar warga sipil, menurut pejabat kesehatan Gaza. Hamas tidak mengungkap jumlah anggotanya yang tewas. Sementara itu, empat tentara Israel tewas di Gaza dalam periode yang sama. Pasukan Israel telah menduduki dan mengosongkan sekitar dua pertiga wilayah Gaza, menyebabkan hampir seluruh dari lebih dari 2 juta penduduknya terkonsentrasi di jalur sempit di sepanjang pesisir yang berada di bawah kendali Hamas. Sebagian besar dari mereka tinggal di tenda darurat atau bangunan yang rusak.