DailyFX.ID — Harga Bitcoin (BTC) menunjukkan penguatan pada perdagangan Rabu (19/8/2026) pagi. Namun, di tengah kenaikan harga tersebut, pasar Bitcoin justru memasuki fase yang relatif tenang dengan volatilitas yang turun ke level terendah dalam beberapa tahun terakhir.
Berdasarkan data CoinMarketCap pukul 06.40 WIB, harga Bitcoin tercatat menguat 0,51% menjadi US$ 64.660 per koin, setara dengan Rp 1,15 miliar dengan asumsi kurs Rp 17.819 per dolar AS.
Kapitalisasi pasar kripto global juga mengalami kenaikan sebesar 0,34% dalam 24 jam terakhir, mencapai US$ 2,2 triliun. Indeks CoinDesk 20, yang merefleksikan kinerja 20 aset kripto terbesar, turut terkerek naik 0,51%. Sementara itu, Ethereum (ETH) meningkat 0,39% menjadi US$ 1.916, namun Binance Coin (BNB) justru melemah 0,26% ke posisi US$ 603.
Dikutip dari CoinDesk, harga bitcoin (BTC) kini bergerak dalam rentang perdagangan yang sempit. Sebelumnya, aset kripto ini sempat mengalami lonjakan yang dipicu oleh kemenangan Donald Trump dan gelombang pembelian oleh perusahaan yang menjadikannya sebagai cadangan aset kripto.
Kondisi ini membuat para trader yang selama ini mengandalkan pergerakan harga Bitcoin yang ekstrem mulai mencari peluang volatilitas di aset lain. “Bitcoin secara historis merupakan aset yang digerakkan investor ritel, begitu juga dengan seluruh pasar kripto. Kini pasar ritel mulai beralih ke saham, terutama saham berbasis kecerdasan buatan (AI), saham melalui blockchain dalam bentuk tokenisasi, serta pasar prediksi,” ujar Global Head of Trading B2C2 Edmond Goh.
Menurut Goh, pasar aset digital semakin matang seiring dengan semakin banyaknya institusi tradisional yang masuk lebih dalam ke sektor tersebut. Efisiensi pasar meningkat karena kehadiran lebih banyak pelaku, model manajemen risiko yang lebih efektif, serta aktivitas perdagangan frekuensi tinggi atau high-frequency trading (HFT) dari institusi keuangan tradisional.
Selain itu, proses deleveraging secara umum turut menekan volatilitas. Posisi open interest Bitcoin kini berada di dekat level terendah sepanjang masa.
Volatilitas Bitcoin Menyusut
Volatilitas Bitcoin, yang mengukur seberapa cepat harga bergerak naik atau turun, kini turun ke level terendah dalam beberapa tahun jika dibandingkan dengan saham tradisional. Secara historis, pergerakan harga Bitcoin lebih dari lima kali lebih volatil dibandingkan S&P 500.
Namun, volatilitas terealisasi Bitcoin selama 30 hari kini berada di level tahunan 42%, dibandingkan 18% untuk S&P 500. Selisih tersebut menjadi yang tersempit dalam sejarah, menunjukkan pergerakan harga Bitcoin kini jauh lebih tenang dibandingkan siklus-siklus sebelumnya.
Kondisi ini mencerminkan tarik-menarik antara tekanan jual dari perusahaan dan penambang Bitcoin yang membatasi kenaikan harga, dengan berkurangnya leverage trader spekulatif serta pembelian stabil dari investor jangka panjang yang membatasi potensi penurunan.
Managing Partner Monarq Asset Management Shiliang Tang menyebut Bitcoin saat ini terjebak dalam kondisi stagnasi harga yang menghasilkan rezim volatilitas sangat rendah. “Penjualan dari perusahaan yang memiliki cadangan Bitcoin seperti Strategy dan MARA terus menciptakan batas atas pasokan. Di sisi lain, leverage spekulatif telah sepenuhnya tersapu dalam beberapa bulan terakhir sehingga menghilangkan ancaman likuidasi berantai,” ujar Tang.
Menurut dia, dompet Bitcoin jangka panjang juga belakangan ini tercatat terus melakukan akumulasi berdasarkan data on-chain. Dengan kondisi tersebut, baik pembeli maupun penjual belum memiliki keyakinan yang cukup untuk mendorong harga Bitcoin bergerak secara tegas ke salah satu arah.
Ikuti DailyFX.ID
