DailyFX.ID — Harga emas saat ini tengah berada di bawah tekanan, diperdagangkan di bawah level support kritis US$ 4.300 per troy ounce. Pada penutupan perdagangan Kamis (24/9/2026), harga emas spot tercatat turun 0,32% menjadi US$ 4.273,67 per troy ounce.
Meskipun demikian, para analis menilai penurunan harga emas ini masih tergolong tidak signifikan. Tren reli berpeluang untuk berlanjut pada pekan depan.
Ahli Strategi Komoditas Senior di TD Securities, Ryan McKay, mengungkapkan bahwa emas terus menghadapi hambatan akibat sentimen suku bunga tinggi. Namun, ia menilai permintaan investasi tetap tangguh dan mulai menguat di beberapa segmen pasar penting.
“Saatnya telah tiba bagi emas untuk kembali bergerak naik,” ujar McKay.
Ia menambahkan, “Logam mulia ini telah menunjukkan ketahanan meski ada kenaikan suku bunga oleh The Fed. Dengan meningkatnya kembali minat investor dan bank sentral, emas tampaknya siap untuk kembali bergerak menuju harga di sekitar US$ 5.000 per troy ounce hingga tahun 2027.”
McKay menjelaskan bahwa meskipun kenaikan suku bunga dan imbal hasil riil yang tinggi kerap diperkirakan akan menekan emas yang tidak memberikan imbal hasil (bunga) ini, hubungan tradisional antara emas dan suku bunga kini tidak lagi kuat.
TD Securities melihat bahwa ketidakpastian geopolitik yang tinggi, sentimen de-dollarisasi, kekhawatiran akan penurunan nilai mata uang (currency debasement), memburuknya kondisi fiskal, serta kekhawatiran inflasi yang terus berlanjut turut menopang permintaan investasi emas.
Selain itu, pasar telah memperhitungkan tiga kenaikan suku bunga The Fed. Menurut McKay, hal ini menciptakan risiko asimetris bagi emas, karena kegagalan bank sentral dalam memenuhi ekspektasi tersebut dapat mempercepat kenaikan harga.
Pandangan bullish TD Securities tidak hanya berpusat pada kebijakan moneter. McKay mengatakan, pergeseran signifikan dalam arus investasi sedang terjadi di balik dinamika pasar emas.
Dalam beberapa waktu terakhir, kekhawatiran terkait kebijakan fiskal AS dan isu penurunan nilai mata uang kembali menjadi faktor yang menjaga minat investor terhadap emas, meskipun kebijakan moneter masih ketat. Kuatnya permintaan emas tercermin dari tren di China, yang dikenal sebagai negara konsumen logam mulia terbesar di dunia.
People’s Bank of China telah melaporkan pembelian emas selama 22 bulan berturut-turut. TD Securities memperkirakan bahwa permintaan aktual bank sentral China bisa jadi jauh lebih kuat daripada yang dilaporkan secara resmi.
Oleh karena itu, menurut TD Securities, kombinasi antara pembelian yang kuat oleh bank sentral, membaiknya arus dana ETF, posisi spekulatif yang relatif rendah, serta kekhawatiran yang terus berlanjut mengenai inflasi, keberlanjutan fiskal, dan penurunan nilai mata uang mengindikasikan bahwa pelemahan harga emas saat ini pada akhirnya mungkin hanya bersifat sementara.
Ikuti DailyFX.ID
