DailyFX.ID — Konglomerat investasi Berkshire Hathaway kini memiliki dana kas dan surat utang pemerintah senilai US$ 397,4 miliar, atau sekitar Rp 6.350 triliun. Jumlah cadangan likuiditas terbesar dalam sejarah perusahaan ini bahkan melampaui kapitalisasi pasar ExxonMobil dan Produk Domestik Bruto (PDB) Afrika Selatan.
Di tengah rekor tertinggi indeks S&P 500, Nasdaq, dan Dow Jones Industrial Average yang didorong oleh euforia kecerdasan buatan (AI), investor kawakan Warren Buffett, 95, memberikan peringatan keras mengenai kondisi pasar saham saat ini.
Pasar Saham Mirip Kasino
Dalam wawancaranya bersama CNBC Internasional pada rapat pemegang saham tahunan Berkshire Hathaway, Buffett mengibaratkan pasar keuangan seperti gereja yang berdampingan dengan kasino. “Gereja” melambangkan investasi jangka panjang, sementara “kasino” mewakili spekulasi jangka pendek.
“Kita tidak pernah menyaksikan masyarakat berada dalam suasana hati yang lebih suka berjudi daripada saat ini,” ujar Buffett. Ia menyoroti perdagangan opsi satu hari (one-day options) dan pasar prediksi (prediction markets) sebagai bentuk perjudian, bukan investasi.
Buffett menambahkan bahwa banyak harga saham saat ini akan terlihat sangat konyol jika dilihat kembali di masa depan, meskipun ia enggan memprediksi kapan potensi koreksi akan terjadi.
Di bawah kepemimpinan CEO baru Greg Abel, Berkshire terus melanjutkan pola pelepasan saham dan tercatat menjadi penjual bersih (net seller) ekuitas selama lebih dari 14 kuartal berturut-turut. Kendati tidak memutar dana tersebut ke saham baru, Berkshire meraup imbal hasil bunga sekitar USD 12 miliar per tahun dari kepemilikan Treasury bills.
Sinyal Bahaya dari Indikator Saham
Dua indikator penilaian (valuation) utama kini menunjukkan sinyal merah:
- Indikator Buffett (Rasio Pasar Saham terhadap PDB): Menyentuh angka 234,3% per akhir Juli 2026. Pada 2001, Buffett pernah mengingatkan investor sedang bermain dengan api jika rasio ini mendekati 200%. Nilai saat ini tercatat 41,6% di atas rata-rata jangka panjangnya (165,5%).
- Rasio Shiller CAPE: Berada di level 41,9. Nilai ini mendekati rekor tertinggi sepanjang masa sebesar 44,2 yang dicapai saat puncak gelembung dot-com pada Desember 1999, serta jauh di atas rata-rata historisnya di angka 17.
Pelajaran dari Puncak Gelembung Dot-Com
Tingginya nilai evaluasi pasar sering kali berkorelasi dengan imbal hasil yang lebih rendah dalam dekade berikutnya. Setelah gelembung dot-com pecah pada Maret 2000, indeks S&P 500 membutuhkan waktu lebih dari tujuh tahun untuk kembali ke titik tertingginya, sementara indeks Nasdaq membutuhkan waktu lebih dari satu dekade.
Namun, kondisi pasar saat ini memiliki fondasi yang sedikit berbeda. Perusahaan raksasa teknologi seperti Apple, Microsoft, Nvidia, dan Alphabet menghasilkan laba bersih riil yang besar, mencapai gabungan lebih dari US$ 400 miliar pada tahun fiskal terakhir. Hal ini berbeda dibanding era dot-com di mana banyak perusahaan yang meroket belum memiliki pendapatan nyata.
Buffett menegaskan bahwa ia tidak menyuruh investor keluar total dari pasar saham. Pasalnya, S&P 500 tetap mencetak imbal hasil lebih dari 700% sejak tahun 2000 bagi investor yang bertahan melalui berbagai krisis. Pesan utamanya bagi para pemodal tetap konsisten, yakni mengurangi porsi perjudian spekulatif dan fokuslah pada investasi nilai jangka panjang.
Warren Buffett dikenal sebagai pelopor strategi value investing—sebuah pendekatan investasi yang berfokus pada pembelian saham perusahaan berkualitas tinggi saat harganya berada di bawah nilai intrinsiknya (undervalued) dan memegang saham tersebut untuk jangka panjang. Strategi ini mengutamakan analisis fundamental, kesehatan laporan keuangan, margin keamanan (margin of safety), serta keunggulan kompetitif yang berkelanjutan (economic moat).
Seiring berkembangnya teknologi keuangan, karakteristik pasar modal global mengalami pergeseran signifikan. Kehadiran aplikasi perdagangan ritel tanpa komisi, instrumen derivatif berrisiko tinggi seperti opsi harian (0DTE options), serta masifnya pengaruh media sosial telah mendorong partisipasi investor ritel ke arah transaksi spekulatif jangka pendek.
Kondisi ini memicu volatilitas tinggi dan sering kali mendongkrak harga saham jauh melampaui nilai wajarnya. Peringatan Buffett menjadi penegas pentingnya kembali ke prinsip dasar investasi yang rasional di tengah tingginya euforia dan spekulasi pasar modern.
Ikuti DailyFX.ID
