— Pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai merambah dunia investasi, menawarkan kemudahan bagi investor dalam mengelola portofolio mereka. Teknologi ini dapat membantu mengevaluasi kondisi portofolio, menganalisis komposisi aset, hingga melakukan penataan ulang agar tetap sesuai dengan target dan strategi investasi awal.

AI memungkinkan investor menerima dan mengolah informasi serta data investasi secara lebih cepat, sehingga mempercepat proses penentuan langkah selanjutnya. Penataan ulang portofolio umumnya diperlukan ketika komposisi aset mengalami perubahan signifikan dari alokasi awal akibat pergerakan harga yang berbeda-beda. Hal ini dapat menggeser persentase kepemilikan aset dari yang semula sesuai strategi investasi.

Platform AI seperti ChatGPT, Gemini, dan Claude dapat digunakan untuk menghitung persentase aset yang telah dibeli. Data ini kemudian dapat dibandingkan dengan target alokasi awal untuk mengidentifikasi bagian portofolio yang mengalami perubahan. AI juga mampu menjelaskan istilah dan konsep investasi dalam bahasa yang lebih mudah dipahami oleh investor awam.

Sebagai contoh, seorang investor yang menetapkan alokasi 60% dana pada instrumen saham dan 40% pada aset pendapatan tetap, akan melihat perubahan porsi kepemilikan saham jika harganya naik. Nilai kepemilikan saham bisa membesar melebihi target awal, sehingga memicu evaluasi kembali susunan portofolio.

Bukan Pengganti Keputusan Investasi

Meskipun menawarkan kemudahan, investor tidak dapat sepenuhnya mengandalkan AI dalam pengambilan keputusan. Teknologi ini dinilai belum sepenuhnya memahami kondisi keuangan, tujuan investasi, kebutuhan dana, maupun tingkat toleransi risiko individu.

Informasi yang disampaikan AI terkadang masih bersifat umum atau kurang spesifik, sehingga memerlukan pemeriksaan lebih lanjut. Proses ini meliputi pengecekan kembali data yang diperoleh dari AI sebelum dijadikan dasar pengambilan keputusan.

AI seharusnya diposisikan sebagai alat bantu untuk memahami dan mengelola informasi, bukan sebagai pengganti pertimbangan pribadi investor. Kehadiran AI dinilai dapat mempermudah proses pengelolaan ulang portofolio, khususnya dalam mengolah informasi investasi. Namun, keputusan akhir tetap harus mempertimbangkan tujuan berinvestasi masing-masing individu.

Selain itu, kemudahan yang ditawarkan teknologi ini perlu diimbangi dengan literasi investasi yang memadai agar keputusan yang diambil investor tidak semata-mata berasal dari rekomendasi AI.