— JAKARTA – Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Aida S. Budiman menyatakan komitmennya untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah agar tidak mengalami depresiasi berlebihan di tengah ketidakpastian ekonomi global. Hal ini diungkapkan dalam uji kelayakan dan kepatutan di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Aida menjelaskan bahwa fluktuasi nilai tukar rupiah sangat dipengaruhi oleh interaksi pasokan dan permintaan di pasar. “Nilai tukar itu, itu kan sama dengan pasar di mana-mana yaitu ketemunya antara pasokan dengan permintaan. Apabila pasokan itu tidak banyak, sementara permintaannya banyak, tentu harganya akan mengalami perubahan. Kalau dalam nilai tukar, harga tersebut mengalami perubahan dengan depresiasi,” tuturnya.

Pada perdagangan Rabu (26/8/2026), rupiah ditutup melemah tipis ke level Rp 17.725 per dolar AS, masih berada di bawah asumsi APBN 2026 sebesar Rp 16.500 per dolar AS.

Perang di Timur Tengah disebut menjadi salah satu faktor utama yang meningkatkan tekanan terhadap perekonomian global. Konflik ini memicu gangguan rantai pasok minyak dan kenaikan harga minyak dunia, yang berdampak pada perekonomian berbagai negara, termasuk Indonesia. “2026 ini tantangan yang sangat berat. Betul-betul sangat berat, karena kita tidak pernah tahu pada saat itu terjadi–si Perang Timur Tengah. Dan itu semua persepsinya berubah, harga-harga minyak mengalami peningkatan,” terang Aida.

Meskipun fluktuasi nilai tukar wajar terjadi, BI berupaya menjaga agar pergerakannya tidak ‘overshooting’ atau terdepresiasi terlalu dalam. “Yang dijaga oleh Bank Indonesia adalah stabilitasnya. Yang dimaksud dengan stabilitas di sini adalah supaya trennya itu tidak overshooting . Apabila pasar itu trennya terdepresiasi adalah yang penting jangan terdepresiasi terlalu tinggi. Itu yang paling utama, sehingga terjadi kepastian,” jelas Aida.

Defisit neraca transaksi berjalan pada triwulan II-2026 sebesar US$ 12,5 miliar atau 3,3% dari PDB, meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya. Namun, defisit ini diimbangi oleh surplus transaksi modal dan finansial sebesar US$ 12 miliar, yang ditopang oleh aliran masuk investasi langsung dan portofolio. “Defisit transaksi berjalan ini biasanya itu sudah membuat investor itu menjadi kalang kabut, alhamdulillah (rupiah) bisa terjaga,” kata Aida.

Saat ini, nilai tukar rupiah bergerak stabil di kisaran Rp 17.800-Rp 17.900 per dolar AS, yang merupakan hasil dari upaya penjagaan BI. “Sekarang pelan-pelan nilai tukar sudah mengalami gerakan yang cukup stabil, Rp 17.800-Rp 17.900. Itu yang kami sebut dengan penjagaan,” tutur Aida.

Aspirasi Dunia Usaha

Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyambut baik harapan stabilitas nilai tukar rupiah pada tahun 2027. Ketua Umum Apindo, Shinta W. Kamdani, menyatakan bahwa asumsi kurs dalam RAPBN 2027 sebesar Rp 16.800-Rp 17.500 per dolar AS dapat menjadi acuan bagi dunia usaha.

Shinta menekankan pentingnya stabilitas nilai tukar bagi dunia usaha untuk menyusun perencanaan biaya, investasi, dan ekspansi. “Melihat volatilitas yang terjadi sepanjang 2026, isu stabilitas, predictability , dan kemampuan menjaga market confidence menjadi satu faktor penting agar pelaku usaha memiliki kepastian dalam mengambil keputusan jangka menengah dan panjang,” ujarnya.