— Bank Indonesia (BI) terus berupaya mempercepat intermediasi perbankan, membuka peluang bagi industri perbankan untuk meningkatkan penyaluran kredit ke sektor-sektor produktif. Salah satu bank yang berpotensi memanfaatkan momentum ini adalah PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk (BWS/SDRA).

Dukungan bank sentral dalam mendorong kredit diwujudkan melalui penguatan kebijakan insentif likuiditas makroprudensial (KLM) dan Program Percepatan Intermediasi Indonesia (PINISI). Hingga pekan pertama Juli 2026, insentif KLM yang diterima industri perbankan mencapai Rp431,9 triliun. Dana ini terdiri atas Rp369 triliun melalui lending channel untuk mendorong penyaluran pembiayaan dan Rp62,9 triliun melalui interest rate channel guna meningkatkan efektivitas pembentukan suku bunga kredit.

Insentif tersebut difokuskan pada sektor prioritas seperti pertanian, industri pengolahan dan hilirisasi, jasa dan ekonomi kreatif, konstruksi, properti dan perumahan, serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Kebijakan ini juga mendorong pembiayaan inklusif dan kegiatan usaha berkelanjutan.

Sementara itu, PINISI berfungsi sebagai wadah sinergi antara BI, pemerintah, otoritas terkait, perbankan, investor, dan pelaku usaha. Program ini diharapkan dapat menjembatani kebutuhan pembiayaan sektor riil dengan kapasitas perbankan, sehingga ekspansi kredit lebih cepat dan tepat sasaran.

Adiitya Prayoga dari Phintraco Sekuritas menilai bahwa kebijakan BI berpotensi memperkuat ruang ekspansi bagi bank yang memiliki likuiditas, permodalan, dan kemampuan mengelola risiko memadai. Namun, penyaluran kredit tetap harus dilakukan secara selektif agar percepatan intermediasi tidak diikuti peningkatan risiko kredit.

“Dukungan likuiditas dari BI memberikan ruang lebih besar bagi bank untuk menyalurkan pembiayaan. Bank dengan modal kuat dan pemahaman yang baik terhadap ekosistem nasabah berpeluang menangkap permintaan kredit secara lebih optimal dengan tetap menjaga kualitas aset,” ujar Aditya, Rabu (26/8/2026).

Bank Woori Saudara (BWS) menjadi salah satu contoh bank yang dapat memanfaatkan peluang ini. Hingga akhir Juni 2026, BWS membukukan total penyaluran kredit sebesar Rp40,34 triliun, dengan dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp29,46 triliun.

Portofolio kredit BWS terdiri atas kredit modal kerja sekitar Rp20,8 triliun, kredit konsumsi Rp17,1 triliun, dan kredit investasi Rp2,4 triliun. Komposisi ini menunjukkan eksposur BWS yang kuat terhadap kebutuhan operasional pelaku usaha sekaligus pembiayaan konsumer.

Pendekatan berbasis ekosistem dapat menjadi strategi BWS untuk memperluas penyaluran kredit. Melalui pendekatan ini, pembiayaan tidak hanya diberikan kepada satu perusahaan, tetapi juga dapat menjangkau pemasok, distributor, karyawan, dan pelaku usaha lain yang terhubung dalam rantai bisnis nasabah utama.

“Model kredit berbasis ekosistem memungkinkan bank memperoleh gambaran yang lebih menyeluruh mengenai arus transaksi dan kebutuhan pembiayaan setiap anggota ekosistem. Dengan dukungan data transaksi, bank juga dapat menyusun produk kredit yang lebih sesuai dengan karakter usaha sekaligus memperkuat proses pemantauan risiko,” ungkap Aditya.

Kapasitas ekspansi BWS juga ditopang oleh permodalan yang kuat. Hingga Juni 2026, rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) perseroan tercatat sebesar 32,02%, jauh di atas rata-rata industri sebesar 23,7%. Kondisi ini memberikan bantalan yang memadai bagi BWS untuk mengembangkan kredit secara selektif.

Struktur pendanaan BWS juga menunjukkan perbaikan. Dana murah atau current account saving account (CASA) meningkat 7,49% menjadi Rp8,46 triliun dari Rp7,87 triliun pada akhir 2025. Kenaikan ini mendorong rasio CASA terhadap DPK menjadi 28,72% dari sebelumnya 23,11%.

Dengan dukungan kebijakan BI, permodalan yang solid, serta pengembangan pembiayaan berbasis ekosistem, BWS memiliki peluang untuk memperluas peran intermediasinya. Strategi tersebut diharapkan dapat mendorong pertumbuhan kredit yang sehat.