— Calon Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Aida Suwandi Budiman, telah mempersiapkan delapan program kerja strategis yang dirancang untuk mencapai visi menjadikan BI sebagai bank sentral terbaik di negara berkembang (emerging economies) sekaligus memberikan kontribusi positif bagi perekonomian nasional. Program-program ini diharapkan dapat mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif.

Dalam uji kepatutan dan kelayakan (fit and proper test) di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada Rabu (26/8/2026), Aida menjelaskan bahwa predikat bank sentral terbaik di emerging economies dapat diraih jika kebijakan BI terukur dan sebanding dengan teori serta praktik terbaik bank sentral lain, sehingga kredibel. Namun, kebijakan tersebut harus tetap relevan dengan kebutuhan perekonomian nasional agar dapat berkontribusi positif.

Delapan program kerja tersebut terbagi menjadi satu program sinergi dan tujuh program penajaman. Program sinergi berfokus pada penyelarasan kebijakan BI dengan pemerintah dalam lima bidang utama: fiskal moneter, stabilitas inflasi, pembiayaan dan stabilitas sistem keuangan, struktur ekonomi, serta persepsi positif.

Menurut Aida, kebijakan fiskal dan moneter merupakan dua motor penggerak utama perekonomian. Penting adanya sinergi dalam perumusan asumsi, seperti yang dilakukan pada saat penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN). Sinergi ini memungkinkan otoritas moneter memahami dan merespons kebijakan dengan tepat, termasuk terkait penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) dan obligasi global yang dapat memengaruhi likuiditas valas dan rupiah.

“Kadangkala, antara otoritas moneter dan fiskal mempunyai kebijakan yang berbeda. Tapi, yang penting adalah tujuannya sama yaitu menuju stabilitas dan mendukung pertumbuhan ekonomi, atau bahkan mendorong pertumbuhan ekonomi,” tutur Aida.

Selanjutnya, Aida memaparkan tujuh program kerja untuk penguatan peran BI. Program pertama adalah kalibrasi bauran kebijakan Bank Indonesia. Program kedua adalah reformasi data sesuai arsitektur data global, yang penting untuk analisis digital dan surveilans guna mengoptimalkan penerimaan devisa serta menjaga stabilitas nilai tukar.

Program ketiga fokus pada perluasan sumber pembiayaan di luar perbankan, termasuk pendalaman pasar uang dan pemanfaatan instrumen pasar uang baru sebagai dasar operasi moneter. BI juga akan mengoptimalkan penggunaan platform Investor Relations Unit (IRU) dan Regional Investor Relations Unit (RIRU) untuk mempromosikan proyek strategis nasional Indonesia melalui 46 kantor perwakilan daerah dan 5 kantor perwakilan luar negeri.

“Di pusat kita punya link kepada daerah melalui 46 kantor perwakilan di daerah dan 5 di kantor perwakilan luar negeri dan ini bisa menjadikan platform untuk menjual proyek strategis nasional Indonesia,” terang Aida.

Program keempat adalah kebijakan pasar uang dan pasar valuta asing (PUVA) yang mendorong diversifikasi penggunaan mata uang lokal guna meningkatkan volume pasar keuangan. Program kelima adalah pengembangan sistem pembayaran yang inovatif, khususnya dalam sistem pembayaran lintas negara.

Program keenam menyasar pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menuju ekosistem yang terintegrasi, tidak hanya untuk ekspor tetapi juga untuk penyerapan tenaga kerja. Program ketujuh adalah bauran kebijakan kelembagaan yang diwujudkan melalui peningkatan efisiensi proses bisnis di BI dan pengembangan kualitas sumber daya manusia untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.