— Calon Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti memberikan sinyal bahwa tekanan terhadap rupiah tidak serta-merta akan direspons dengan kenaikan BI-Rate. Bank sentral akan mengandalkan bauran kebijakan, termasuk pendalaman pasar uang dan pasar valas, operasi moneter, serta intervensi nilai tukar untuk menjaga stabilitas rupiah sekaligus mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi.

Sinyal tersebut disampaikan Destry dalam uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) sebagai calon Gubernur BI di Komisi XI DPR RI, Jakarta, Rabu (26/8/2026).

Destry menegaskan, ruang untuk menaikkan suku bunga perlu dipertimbangkan secara hati-hati karena pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berada di bawah tingkat potensial. Menurut dia, BI tidak dapat hanya mengandalkan kebijakan moneter untuk menghadapi tekanan terhadap rupiah.

“Makanya izin Bapak-Ibu sekalian kemarin pada saat kami rapat RDG terakhir, bulan Agustus yang lalu, kami walaupun tekanan pada rupiah juga tinggi, tapi kami tidak bisa menaikkan (BI-Rate) begitu saja, karena kami lihat bahwa kita punya PR pertumbuhan kita ini masih di bawah potensial levelnya,” ujar Destry.

Pernyataan tersebut mempertegas pendekatan BI dalam beberapa waktu terakhir ini yang tidak hanya berfokus pada stabilitas nilai tukar, tetapi juga mempertimbangkan kebutuhan menjaga pertumbuhan ekonomi sesuai mandat baru. Pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) 18-19 Agustus 2026, BI memang mempertahankan BI-Rate di level 5,75% setelah menaikkan suku bunga acuan pada Mei dan Juni.

Destry mengatakan BI akan menggunakan instrumen lain untuk merespons tekanan terhadap rupiah. Salah satunya melalui pendalaman pasar uang dan pasar valas dengan memberikan insentif serta menekan biaya lindung nilai (hedging cost) guna menarik aliran dana asing.

“Dan alhamdulillah itu juga tercapai sehingga baik SRBI ataupun SBN juga sudah mengalami inflow dan itu sedikit banyak menambah supply valas juga di market,” katanya.

Menurut Destry, strategi tersebut menjadi bagian dari bauran kebijakan BI untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan.

Hal ini juga ditegaskan Destry dalam paparannya. Destry menyebut BI-Rate ke depan akan diarahkan secara pre-emptive dan forward-looking untuk menjaga stabilitas rupiah. Namun, stabilisasi nilai tukar tidak hanya dilakukan melalui suku bunga.

“BI-Rate akan diarahkan secara pre-emptive dan forward-looking untuk menjaga stabilitas rupiah. Stabilisasi nilai tukar rupiah akan terus diperkuat melalui smart intervention, operasi moneter pro-market akan dioptimalkan agar transmisi kebijakan semakin efektif dan likuiditas tetap memadai bagi pasar uang, perbankan, dan sektor riil,” jelasnya.

Dengan demikian, fokus BI ke depan adalah menjaga rupiah melalui kombinasi instrumen, sehingga penyesuaian suku bunga tidak menjadi satu-satunya pilihan ketika tekanan eksternal meningkat.

Destry menjelaskan, keputusan untuk tidak menaikkan suku bunga pada saat tekanan rupiah tinggi juga berkaitan dengan kondisi siklus ekonomi Indonesia yang dinilai masih berada di bawah tingkat optimal.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II-2026 tercatat 5,29% secara tahunan, sedangkan inflasi Juli 2026 sebesar 2,88% dan masih berada dalam sasaran BI sebesar 2,5%±1%. Destry menilai kondisi tersebut memberikan ruang bagi BI untuk menggunakan instrumen selain suku bunga guna menjaga stabilitas sekaligus mendukung pertumbuhan.

Destry mencontohkan hal serupa dalam rangka meningkatkan likuiditas di pasar melalui operasi moneter. Langkah tersebut ikut mendorong penurunan suku bunga dari posisi tertinggi 6,5% menjadi sekitar 6%.

“Nah ini yang tentunya nanti akan memengaruhi cost of fund dari perbankan juga,” ujarnya.

Instrumen lain yang menjadi perhatian adalah Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Destry mengatakan arah kebijakan SRBI kini lebih difokuskan sebagai instrumen transmisi kebijakan suku bunga.

“Kami ini Pak sekarang adalah kita akan lebih fokus SRBI itu untuk menjadi transmisi untuk kebijakan suku bunga, supaya suku bunga juga di market bisa relatif melandai,” kata Destry.

Dia mengungkapkan, outstanding SRBI telah turun dari posisi tertinggi hampir Rp 1.100 triliun menjadi sekitar Rp 1.050 triliun. “Nah ini bertahap kami turunkan untuk menambah likuiditas dan juga supaya suku bunga di market itu lebih bisa terkendali dan align juga dengan suku bunga overnight kita,” jelasnya.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa BI akan lebih mengoptimalkan instrumen operasi moneter untuk memastikan transmisi kebijakan berjalan dan likuiditas tetap tersedia bagi pasar keuangan serta perbankan.

Terkait tekanan rupiah, Destry mengatakan pergerakan nilai tukar dipengaruhi dua faktor utama, yakni fundamental dalam jangka panjang dan sentimen pasar dalam jangka pendek. Menurut dia, ketidakpastian global saat ini membuat rupiah menghadapi tekanan yang tidak sepenuhnya mencerminkan fundamental ekonomi domestik.

“Kalau kita lihat pergerakan dari rupiah itu sendiri, sebenarnya kalau melihat dari faktor fundamental, kemudian termasuk juga apa yang terjadi di Amerika, di global, dengan ketidakpastian yang tinggi, itu nilai rupiah kita sebenarnya bisa lebih rendah (kuat secara fundamental) dari sekarang Pak,” ujar Destry.

Dia menambahkan, sentimen pasar dapat berubah cepat sehingga pergerakan rupiah juga dapat mengalami penguatan dalam waktu singkat.

“Dan kami tetap, tapi kami akan selalu manfaatkan momentum. Pada saat sentimen lagi positif, tentunya Bank Indonesia akan terus juga ada. Di pasar tetap ada kami Pak, karena itu sudah menjadi kewajiban kami menjaga volatilitas juga dari Rupiah,” katanya.

Destry sebelumnya telah menempatkan smart intervention sebagai salah satu instrumen utama stabilisasi nilai tukar. Strategi tersebut akan berjalan bersama operasi moneter yang lebih berorientasi pasar. Pendekatan tersebut sejalan dengan pernyataannya bahwa stabilisasi rupiah tidak dapat hanya dicapai melalui kebijakan moneter konvensional.

“Stabilisasi tidak bisa kita hanya capai dari kebijakan moneter,” kata Destry.

Karena itu, BI akan memperkuat pendalaman pasar uang dan pasar valas. Menurut Destry, semakin dalam pasar keuangan domestik, semakin besar pula kapasitas pasar dalam menyerap tekanan eksternal.

Dia menyebut dalam periode 2020-2026, transaksi pasar uang telah meningkat sekitar enam kali lipat, sedangkan pasar valas meningkat sekitar tiga kali lipat. Saat ini, rata-rata transaksi pasar valas disebut telah mencapai sekitar US$ 12 miliar per hari, dibandingkan sekitar US$ 3-4 miliar pada 2020.

“Jadi ini adalah makin dalam pasarnya, maka tentu stabilitas dari rupiah juga akan makin terjaga. Kemudian juga sumber pembiayaan untuk pembangunan juga akan makin bisa kita dorong,” jelasnya.

Destry selanjutnya mengaitkan strategi tersebut dengan target pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 8%. Menurut dia, target pertumbuhan yang lebih tinggi membutuhkan sumber pembiayaan yang semakin besar.

“Karena Indonesia ini sedang bertumbuh, apalagi dengan target pemerintah 8%, pasti akan butuh financing yang besar,” kata Destry.

Oleh karena itu, pendalaman pasar uang dan pasar valas menjadi salah satu pekerjaan rumah utama yang ingin dilanjutkan apabila dirinya dipercaya memimpin BI. Selain mendukung stabilitas rupiah, pasar keuangan yang lebih dalam dinilai dapat memperluas sumber pembiayaan pembangunan sehingga tekanan terhadap perbankan sebagai sumber pembiayaan tidak terlalu besar.

Destry juga menilai kondisi inflasi memberikan ruang bagi BI untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan. Inflasi tidak seluruhnya berada dalam kendali BI karena terdapat komponen volatile food dan administered prices.

Volatile food inflation tidak bisa ditangani oleh BI sendiri. Makanya perlu tadi sinergi dengan pemerintah pusat, pemerintah daerah untuk mengendalikan inflasi, termasuk petani dan sebagainya, inflasi pangan,” kata Destry.

Sementara itu, kenaikan harga yang diatur pemerintah atau administered prices juga dapat memberikan tekanan langsung terhadap inflasi.