— JAKARTA – Rencana Presiden Prabowo Subianto untuk menghadirkan layanan ambulans udara dan tim dokter terbang di daerah terpencil memerlukan kesiapan yang komprehensif. Konsep ini tidak hanya sebatas penyediaan helikopter atau pesawat, namun menuntut adanya dukungan tim medis profesional, perlengkapan darurat mutakhir, rumah sakit rujukan yang memadai, serta integrasi sistem transportasi darat dan laut.

Vika Cokronegoro, seorang Aviation Medicine Specialist dari Universitas Tarumanegara, menekankan bahwa konsep ‘flying doctor’ lebih dari sekadar memindahkan pasien. Ini melibatkan tim medis yang mendampingi pasien secara intensif selama penerbangan hingga tiba di tujuan.

“Flying Doctor merujuk kepada tim medis yang mendampingi pasien selama perjalanan hingga pasien tiba di RS tujuan,” kata Vika kepada wartawan, Jumat (21/8/2026).

Pertimbangan kondisi pasien menjadi faktor krusial sebelum melakukan evakuasi udara. Vika menjelaskan bahwa penerbangan dapat menimbulkan risiko bagi pasien karena kadar oksigen kabin yang lebih rendah, perubahan tekanan udara (hypobaric), dan gaya gravitasi (G force). Kondisi ini berpotensi membahayakan pasien dengan anemia, gangguan jantung dan paru-paru, serta perdarahan.

Pasien yang belum menerima penanganan definitif harus terlebih dahulu distabilisasi. Sementara itu, pasien yang memerlukan tindakan medis segera dapat menerapkan pendekatan ‘scoop and run’ untuk mempercepat evakuasi ke rumah sakit dengan fasilitas yang lengkap.

Vika menambahkan, armada ambulans udara dapat bervariasi, mulai dari jet, pesawat propeller, seaplane, hingga helikopter. Pilihan armada sangat bergantung pada kondisi pasien, karakteristik geografis wilayah, serta ketersediaan fasilitas landasan di daerah tujuan. “Helicopter, paling fleksibel, bisa landing di lapangan terbuka yang di sekitarnya tidak ada obstacle,” ujarnya.

Pemerintah juga diharapkan melakukan inventarisasi menyeluruh terhadap ketersediaan armada, fasilitas kesehatan, tenaga medis, dan peralatan, baik milik pemerintah maupun swasta, sebelum program ini diluncurkan.

Integrasi dengan Rumah Sakit Rujukan

Vika menyarankan agar pangkalan ambulans udara idealnya terintegrasi langsung dengan rumah sakit yang memiliki fasilitas penunjang kehidupan (lifesaving) lengkap. Hal ini bertujuan untuk mencegah pasien perlu dirujuk kembali setelah tiba di rumah sakit tujuan.

“Base air ambulance harus berbarengan dengan RS yang fasilitas lifesaving-nya lengkap,” tegasnya.

Integrasi antara transportasi darat, laut, dan udara menjadi sangat penting, terutama dalam menjangkau wilayah pegunungan dan pulau-pulau terluar. “Operasional ini sangat kompleks, perlu sinergi operator penerbangan, tenaga medis, regulasi perhubungan dan kesehatan,” pungkasnya.

Sebelumnya, Prabowo sempat mengungkapkan rencana pemerintah untuk menyediakan ambulans udara menggunakan helikopter dan pesawat kecil yang dirancang untuk mendarat di medan yang sulit. “Kita juga akan membuat ambulans udara dengan helikopter dan dengan pesawat kecil yang bisa mendarat di lapangan-lapangan rumput, di lapangan-lapangan pasir, bisa mendarat di pinggir sungai,” kata Prabowo dalam Sidang Bersama DPR-DPD RI, Jumat (14/8/2026).

Prabowo menyatakan bahwa program ini dibutuhkan mengingat masih banyak masyarakat, termasuk ibu hamil, yang harus menempuh perjalanan berjam-jam demi mendapatkan akses layanan kesehatan.

Selain ambulans udara, pemerintah juga tengah menyiapkan konsep tim dokter terbang yang akan diterjunkan langsung ke lokasi warga yang mengalami sakit keras atau terdampak bencana alam.