DailyFX.ID — PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) berhasil membalikkan kerugian menjadi laba signifikan sebesar US$503,68 juta pada semester I-2026. Namun, kinerja impresif ini akan menghadapi ujian sesungguhnya pada paruh kedua tahun ini, terutama dalam menjaga keberlanjutan perbaikan fundamental dan operasional.
Lompatan kinerja AMMN pada semester pertama, yang ditandai kenaikan penjualan bersih menembus 1.000% menjadi US$2.052 juta, EBITDA US$1.128 juta dengan margin 55%, dan laba bersih US$503,68 juta dengan margin 25%, perlu diuji lebih lanjut. Kinerja ini perlu dipertahankan di tengah potensi siklus komoditas yang tidak berpihak dan basis pembanding yang rendah (low-base effect).
Tantangan operasional yang lebih besar dihadapi AMMN di semester II-2026. Perseroan harus membuktikan keandalan operasional smelter hingga akhir tahun, tidak hanya terpaku pada rekor yang dipecahkan pada Juli dan Agustus. Ketidakpastian berlanjutnya izin ekspor konsentrat juga menjadi risiko material yang membayangi perusahaan.
Untuk menghadapi tantangan ini, AMMN memprioritaskan menjaga keandalan operasi, disiplin biaya, dan memperkuat neraca dengan melunasi serta menurunkan tingkat utangnya. Selain itu, perusahaan berupaya mempertahankan kinerja operasional smelter setelah mencetak rekor, menyelesaikan proyek utama seperti tangki LNG dan peningkatan kapasitas produksi konsentrator baru, serta menyiapkan Final Investment Decision (FID) untuk proyek Elang pada 2027.
AMMN memperbarui panduan produksi emas dalam konsentrat tahun ini menjadi 775 ribu ons (+34%) dan mempertahankan produksi tembaga pada 485 juta pon. Perusahaan juga merilis panduan produksi produk logam murni seiring beroperasinya smelter dan rampungnya precious metal refinery (PMR).
Direktur Utama Amman Mineral, Arief Sidarto, menegaskan fokus perseroan pada pencapaian operasi yang stabil, andal, dan berkelanjutan di seluruh rantai nilai. “Meski, perkembangan geopolitik termasuk konflik di Timur Tengah telah menyebabkan kenaikan biaya energi, kami tetap optimistis terhadap prospek jangka panjang tembaga dan emas serta percaya bahwa Amman berada pada posisi yang baik untuk menciptakan pertumbuhan berkelanjutan dan nilai jangka panjang,” jelas Arief.
Perbaikan Kinerja Belum Permanen
Kepala Riset KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, menilai perbaikan kinerja AMMN pada semester I-2026 belum bersifat permanen. Kinerja tersebut lebih dipengaruhi oleh proses penambangan yang memasuki area bijih kadar tinggi dan penjualan konsentrat yang sebagian besar berasal dari izin ekspor sementara. Kapasitas smelter yang belum beroperasi normal karena pemeliharaan dan ekspor konsentrat juga menjadi faktor.
“Jadi, dari sisi tambang menunjukkan perbaikan nyata, tapi dari sisi hilir belum stabil,” ujar Wafi. Ia menambahkan bahwa prospek semester II-2026 bergantung pada seberapa cepat utilisasi smelter meningkat untuk menggantikan penjualan konsentrat.
Prospek Jangka Panjang dan Target Harga
Analis Senior Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, berpandangan prospek AMMN di semester II-2026 sangat dipengaruhi oleh stabilitas operasional dan utilisasi smelter. Hal ini akan menentukan kemampuan perseroan mengonversi produksi tambang menjadi produk bernilai tambah secara konsisten.
Faktor eksternal seperti pergerakan harga tembaga dan emas, serta resolusi izin ekspor konsentrat, akan menjadi katalis penting. “Jadi, kombinasi smelter yang stabil, harga komoditas yang tetap suportif, dan kepastian izin ekspor akan menjadi faktor utama dalam menentukan apakah momentum kinerja semester I-2026 dapat dipertahankan hingga akhir tahun buku 2026,” ujar Nafan.
Nafan merekomendasikan add untuk saham AMMN dengan target harga Rp5.625. Sementara itu, Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi, merekomendasikan beli (buy) dengan target harga Rp6.000 menggunakan metode sum of the parts (SOTP). Abida memproyeksikan pendapatan AMMN pada tahun penuh 2026 tumbuh 153% yoy menjadi US$4,7 miliar dengan EBITDA margin berekspansi ke 63% di FY27F.
Risiko utama bagi AMMN meliputi downtime smelter, keterlambatan processing plant, koreksi harga komoditas, dan potensi kenaikan royalti. Secara teknikal, Kepala Riset Ritel MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, merekomendasikan wait and see dengan level support di Rp4.600 dan resistance di Rp4.910. Pada perdagangan Senin (21/9/2026), saham AMMN ditutup terkoreksi 0,43% ke Rp4.660, memperpanjang penurunan year-to-date menjadi 27,47%.
Ikuti DailyFX.ID
