— JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan signifikan pada perdagangan Selasa (22/9/2026). IHSG tercatat anjlok 90,58 poin atau 1,41% ke level 6.295,8. Penurunan ini terjadi seiring investor mencermati sejumlah sentimen domestik dan global yang menimbulkan kekhawatiran.

Tekanan pada pasar saham domestik dipicu oleh setidaknya tiga persoalan utama. Pertama, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Kedua, arus keluar dana asing dari pasar modal Indonesia. Ketiga, meningkatnya risiko geopolitik global. Di tengah berbagai sentimen negatif tersebut, pelaku pasar cenderung mengambil sikap wait and see menjelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang dijadwalkan pada 22-23 September 2026.

Senior Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menyatakan bahwa sentimen pasar pada hari itu sebenarnya lebih konstruktif dibandingkan hari sebelumnya. Namun, potensi penguatan IHSG masih terbatas oleh tekanan domestik, khususnya pergerakan rupiah dan foreign flow. “Dengan rupiah yang sudah terdepresiasi sebesar 0,77% pada Rp17.872,9 per dolar AS, ruang pelonggaran moneter BI akan sangat bergantung pada kemampuan menjaga stabilitas nilai tukar,” ujar Nafan.

Nafan menjelaskan, pelemahan rupiah menjadi perhatian utama investor karena berpotensi meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasar keuangan dan arus modal asing. Kondisi ini juga membuat pasar menanti hasil RDG BI. Pasar memperkirakan suku bunga acuan BI Rate akan tetap dipertahankan di level 5,75%. “Karena itu, fokus investor kemungkinan bergeser pada forward guidance BI, terutama respons bank sentral terhadap pelemahan rupiah dan kondisi suku bunga global,” papar Nafan.

Sentimen kedua yang membebani IHSG adalah arus dana asing. Nafan mengemukakan bahwa foreign flow masih menjadi salah satu faktor pembatas penguatan IHSG. Sikap investor yang lebih berhati-hati juga dapat mendorong aksi jual pada saham-saham tertentu.

Sentimen ketiga berasal dari kondisi pasar global, terutama pergerakan harga minyak mentah dan imbal hasil (yield) obligasi Amerika Serikat (AS). Nafan mencatat penurunan harga minyak dan yield Treasury sebenarnya berpotensi menjadi katalis positif karena sebelumnya kedua komoditas tersebut menekan valuasi saham, khususnya di sektor teknologi. Yield obligasi AS 10 tahun kembali turun 0,88% di bawah level psikologis 5% menjadi 4,952%, sementara harga minyak Brent turun 3,68% ke US$100,08 per barel.

Penurunan harga minyak dapat meredakan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi dan memberi ruang bagi investor untuk kembali masuk ke aset berisiko. Harapan terbukanya jalur diplomasi antara AS dan Iran di sela Sidang Umum PBB juga berpotensi mengurangi premi risiko geopolitik. “Namun, di sisi lain, harga minyak yang masih berada di sekitar US$100 per barel dan yield obligasi AS yang mendekati 5% tetap menjadi risiko bagi pasar negara berkembang,” tambahnya.

Secara teknikal, Nafan menilai koreksi IHSG masih berada dalam fase wajar setelah terbentuk pola wave [iv], sehingga struktur bullish masih berlaku. Indikator MA20 dan MA60 juga masih menunjukkan positive crossover. Meskipun demikian, indikator Stochastics K_D dan RSI masih memberikan sinyal negatif, sementara volume perdagangan mengalami penurunan.

Nafan menyarankan investor untuk tetap mengakumulasi saham dengan fundamental yang solid dan valuasi yang murah, mencermati saham yang menunjukkan tanda pembalikan tren, serta menerapkan manajemen risiko secara disiplin.

Sementara itu, Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, mengatakan IHSG masih berada dalam fase downtrend. Pasar juga mencermati eskalasi geopolitik antara Rusia dan Ukraina serta perkembangan hubungan AS dan Iran. “Seperti yang kami sampaikan pada report teknikal pagi ini, kami masih mencermati pergerakan IHSG masih berada di fase downtrend. Di sisi lain, terjadi eskalasi geopolitik Rusia dan Ukraina, serta pasar juga mencermati perkembangan AS dan Iran,” kata Herditya.