DailyFX.ID — Ancaman fenomena El Nino dengan kekuatan ekstrem, yang populer dijuluki ‘El Nino Godzilla’, berpotensi menjadi pendorong utama pergerakan harga minyak sawit mentah (CPO). Meskipun diperkirakan menekan volume produksi, kondisi ini membuka peluang kenaikan harga yang signifikan dan meningkatkan sensitivitas laba emiten perkebunan.
Analis Samuel Sekuritas Indonesia, Ahnaf Yassar, dalam risetnya menyatakan bahwa dampak terberat terhadap produksi baru akan terlihat pada 2027, mengingat efek kekeringan terhadap tanaman sawit memiliki jeda waktu. Namun, menjelang potensi terjadinya El Nino Godzilla, harga CPO diprediksi akan mengalami kenaikan ke depan.
Setiap kenaikan harga CPO sebesar 10% berpotensi meningkatkan rata-rata laba bersih emiten pada 2027 sebesar 37%. PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) diperkirakan menjadi penerima manfaat terbesar dari tren ini.
National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) Amerika Serikat memperkirakan terbentuknya pola cuaca sangat kuat. Cuaca kering ekstrem disebut telah mulai terjadi, sementara dampak terburuk terhadap volume produksi dan harga diperkirakan muncul pada 2027. NOAA memproyeksikan probabilitas El Nino mencapai kategori ‘sangat kuat’ sebesar 81% pada Oktober-Desember 2026, meningkat dari proyeksi sebelumnya.
Probabilitas El Nino bertahan hingga awal 2027 mencapai 97%, yang jika terjadi, akan masuk dalam jajaran El Nino terburuk sejak 1950. Model prakiraan utama dari Amerika Serikat dan Eropa juga terus merevisi proyeksi ke arah kondisi yang lebih panas, dengan puncak El Nino diprediksi pada September-November 2026.
Dua peristiwa historis yang dinilai paling menyerupai kondisi tersebut, yakni El Nino 1997-1998 dan 2015-2016, sama-sama menyebabkan penurunan signifikan hasil tanaman global. Pada 2015, produktivitas tebu turun 7%, sementara harga komoditas pertanian melonjak.
Di Indonesia, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan musim kemarau 2026 akan lebih kuat, lebih panjang, dan lebih kering dibandingkan kondisi normal.
Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) memperingatkan bahwa kenaikan biaya pupuk sekitar 30%-50% akibat perang Iran dapat memperburuk kendala produksi CPO. Dampak kekeringan terhadap produktivitas kelapa sawit tidak berlangsung seketika, dengan titik terendah produksi diperkirakan terjadi pada 2027.
GAPKI juga memperingatkan kombinasi El Nino dan lonjakan biaya pupuk berpotensi memangkas produksi 2026 sebesar 1-2 juta ton dari basis produksi 2025 yang tercatat sekitar 51,7 juta ton. Penerapan B50 (campuran biodiesel 50%) dan rezim ekspor juga dinilai dapat membatasi ketersediaan CPO.
Oil World melalui Malaysian Palm Oil Council (MPOC) memperkirakan ekspor Indonesia dapat turun hingga 1,7 juta ton pada kuartal II-III. Harga CPO (CIF Rotterdam) rata-rata mencapai US$ 1.356 per ton pada kuartal I-2026, lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. MPOC memperkirakan harga CPO tetap kuat di sekitar RM 4.400 per ton, bahkan dapat mencapai US$ 1.500 per ton dalam skenario bullish.
Samuel Sekuritas melihat pola ini sebagai kondisi klasik saat El Nino bagi produsen hulu: volume turun namun harga naik. Secara historis, saham emiten CPO cenderung mengungguli pasar karena sensitivitasnya terhadap kenaikan harga. Konsensus merekomendasikan ‘hold’ saham AALI dengan target harga Rp 8.179.
Konsensus juga merekomendasikan ‘buy’ untuk saham Dharma Satya Nusantara (DSNG) dengan target harga Rp 1.888, Triputra Agro Persada (TAPG) Rp 2.106, dan PP London Sumatra Indonesia (LSIP) Rp 1.986. Samuel Sekuritas sendiri merekomendasikan ‘buy’ untuk saham Eagle High Plantations (BWPT) dengan target harga Rp 450 dan Nusantara Sawit Sejahtera (NSSS) Rp 1.000.
Ikuti DailyFX.ID
