DailyFX.ID — JAKARTA – Investor asing mencatatkan transaksi beli bersih (net buy) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis (17/9/2026), dengan mayoritas dana mengalir ke saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI). Total net buy asing di seluruh pasar hari itu mencapai Rp 160,2 miliar, sehingga total net sell asing sepanjang tahun berjalan menjadi Rp 72,5 triliun.
Saham BMRI menjadi primadona bagi investor asing, mencatat net buy terbesar di pasar reguler senilai Rp 208,4 miliar. Selain itu, asing juga memborong saham PT Singaraja Putra Tbk (SINI) senilai Rp 64,2 miliar. Di sisi lain, investor asing melakukan net sell terbanyak pada saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) sebesar Rp 147,8 miliar, diikuti oleh PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dengan net sell Rp 122,4 miliar.
Pergerakan positif juga terlihat pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang ditutup menguat 25,5 poin atau 0,4% ke level 6.462,4. Dari total transaksi yang mencapai Rp 13,8 triliun, sebanyak 407 saham menguat, 255 saham melemah, dan 301 saham stagnan.
Mayoritas sektor saham turut menguat, dengan sektor barang konsumen non-primer memimpin kenaikan 1,6%, disusul sektor energi sebesar 1,1%. Sektor lain yang mencatat penguatan antara lain barang konsumen primer, perindustrian, teknologi, transportasi, infrastruktur, barang baku, keuangan, dan properti. Hanya sektor kesehatan yang mengalami pelemahan tipis 0,5%.
Analis dari Pilarmas Investindo Sekuritas menyatakan bahwa respons pasar terhadap keputusan The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%-4% relatif terkendali, karena sudah diperhitungkan sebelumnya. Namun, The Fed masih membuka kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan di akhir tahun.
Sentimen positif lain datang dari pasar minyak dunia yang terkoreksi. Hal ini dipicu harapan kembalinya aliran energi Arab Saudi melalui pipa Timur-Barat. Penurunan harga minyak dinilai dapat meredakan kekhawatiran inflasi global dan memberikan ruang bagi negara pengguna energi seperti Indonesia untuk menjaga anggaran subsidi energi.
Menyikapi keputusan The Fed, pasar domestik menantikan langkah Bank Indonesia (BI). Kenaikan suku bunga AS berpotensi menekan nilai tukar dan arus modal, sehingga BI perlu menjaga keseimbangan antara stabilitas rupiah dan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Ikuti DailyFX.ID
