— PT Antam Tbk (ANTM) telah merevisi target penjualan emasnya untuk tahun 2026 menjadi 34-36 ton, turun dari target sebelumnya yang sebesar 40 ton. Penyesuaian ini dilakukan setelah evaluasi kinerja pada kuartal II-2026, di mana permintaan menjadi faktor pembatas utama dalam mencapai target awal.

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Andhika Audrey, memproyeksikan bahwa penjualan emas Antam pada semester II-2026 akan berada di kisaran 2,5 hingga 3 ton per bulan. Sementara itu, target penjualan bijih nikel emiten berkode saham ANTM ini tetap dipertahankan pada angka sekitar 18 juta wet metric ton (wmt). Panduan penjualan bijih nikel tersebut mengindikasikan target sekitar 1,5 juta wmt per bulan pada semester II-2026. Di sisi lain, margin perdagangan emas yang telah dinormalisasi diproyeksikan tetap berada di kisaran 6-7%.

Untuk tahun 2027, manajemen Antam memperkirakan akan terjadi peningkatan signifikan pada volume feronikel (FeNi) seiring dengan mulai beroperasinya fasilitas baru pada kuartal IV-2026. Proyeksi produksi bauksit dari proyek Mempawah juga diperkirakan meningkat lebih dari 50% setelah beroperasi pada kuartal I-2027. Kapasitas penjualan alumina diharapkan dapat mencapai sekitar 200 ribu ton ketika operasional mencapai kondisi stabil.

Menyikapi perubahan ini, BRI Danareksa Sekuritas merevisi estimasi laba bersih Antam untuk tahun 2026, 2027, dan 2028. Estimasi laba bersih tahun 2026 mengalami kenaikan sebesar 5% menjadi Rp 9,6 triliun, sementara tahun 2027 dan 2028 masing-masing direvisi turun 1,9% menjadi Rp 9,7 triliun dan 13,2% menjadi Rp 10,3 triliun. Kenaikan estimasi laba pada 2026 didorong oleh proyeksi penjualan feronikel yang meningkat 32,1% menjadi 14,8 ribu ton, serta kenaikan penjualan alumina sebesar 5%. Faktor-faktor ini diperkirakan mampu mengimbangi penurunan asumsi penjualan emas dan bijih nikel.

BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi ‘buy’ untuk saham ANTM, namun menurunkan target harga menjadi Rp 4.400 dari sebelumnya Rp 4.800. Target harga baru ini didasarkan pada valuasi rasio price to earnings (P/E) tahun buku 2027 sebesar 10,9 kali, yang sejalan dengan rata-rata lima tahun terakhir.

Dalam jangka pendek, kinerja Antam diproyeksikan masih akan ditopang oleh peningkatan penjualan feronikel. Namun, bisnis emas dan bijih nikel menghadapi risiko yang lebih besar dalam jangka menengah. Pada bisnis emas, peningkatan pasokan domestik diperkirakan membuat sumber pasokan tidak lagi menjadi kendala utama, sehingga penjualan dan margin perdagangan menjadi faktor krusial terhadap kinerja laba perusahaan.

Sementara itu, harga pasar saprolit dengan kadar nikel 1,6% tercatat US$ 63,7 per wmt per 16 September 2026, hanya sedikit di atas Harga Patokan Mineral (HPM) yang sebesar US$ 63,38 per wmt. Risiko utama terhadap proyeksi Antam meliputi potensi pelemahan permintaan dan margin emas, pelebaran diskon harga pasar nikel terhadap HPM, serta kemungkinan keterlambatan proyek.