— Investor asing kembali melancarkan aksi jual bersih (net sell) dalam jumlah besar pada Kamis (24/9/2026). Total net sell asing sepanjang tahun berjalan ini telah menembus Rp 76,9 triliun di seluruh pasar. Khusus di pasar reguler, yang menjadi acuan utama, net sell asing tercatat sebesar Rp 104,3 triliun.

Pada hari yang sama, net sell asing mencapai Rp 1,49 triliun di seluruh pasar Bursa Efek Indonesia (BEI). Saham-saham bank besar seperti PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menjadi yang paling banyak dilepas oleh investor asing.

Net sell asing pada saham BMRI di pasar reguler tercatat senilai Rp 531,9 miliar, menjadi yang terbesar di antara saham lainnya. Menyusul kemudian, net sell asing pada saham BBRI sebesar Rp 141,1 miliar.

Sebaliknya, transaksi beli bersih (net buy) terbanyak oleh investor asing dialami oleh saham PT Astra International Tbk (ASII). Namun, nilai net buy pada saham ASII relatif tidak signifikan, yaitu sebesar Rp 24,4 miliar.

Sementara itu, indeks harga saham gabungan (IHSG) pada penutupan perdagangan hari ini ambles 76,3 poin atau 1,2% ke level 6.298,6. Sebanyak 198 saham menguat, 487 saham melemah, dan 278 saham lainnya stagnan. Total nilai transaksi yang terjadi mencapai Rp 11,2 triliun.

Pengamat pasar modal, Hendra Wardana, mengungkapkan bahwa tekanan terhadap IHSG merupakan kombinasi dari sentimen global yang semakin kuat dan faktor domestik yang membuat investor cenderung lebih defensif.

Pelemahan IHSG ini terutama dipicu oleh beberapa faktor. Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury), penguatan dolar AS, harga minyak yang tinggi, serta arus keluar modal asing menjadi pemicu utama koreksi ini.

Menurut Hendra, tekanan global menguat setelah imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun kembali menembus angka 5%, sementara tenor 2 tahun berada di kisaran 4,9%. Kondisi ini membuat aset dalam dolar AS menjadi lebih menarik dan meningkatkan tuntutan imbal hasil terhadap aset berisiko di pasar berkembang, termasuk Indonesia.

Di dalam negeri, pelemahan nilai tukar rupiah dan fenomena foreign outflow semakin memperbesar tekanan pada pasar. Pergantian posisi Menteri Keuangan dari Purbaya Yudhi Sadewa kepada Suahasil Nazara juga turut diperhitungkan oleh pasar, meskipun Hendra menilai faktor tersebut bukan penyebab utama koreksi. Pergantian jabatan menteri keuangan ini terjadi pada September 2026.

Suahasil Nazara sendiri telah menegaskan komitmen terhadap kesinambungan kebijakan fiskal. Proyeksi defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 diperkirakan mencapai 2,85% terhadap produk domestik bruto (PDB). “Isu pergantian menteri lebih tepat dilihat sebagai tambahan terhadap persepsi risiko investor,” kata Hendra di Jakarta, Kamis (24/9/2026).

Aksi jual yang dilakukan oleh investor asing juga dinilai sudah melampaui sekadar aksi ambil untung (profit taking). Hingga tanggal 24 September 2026, Hendra mencatat bahwa investor asing membukukan total net sell sebesar Rp 104,3 triliun di pasar reguler BEI secara year to date.

“Pola ini lebih tepat dibaca sebagai kombinasi perubahan alokasi aset dan pengurangan risiko,” ujar pendiri Republik Investor tersebut. Ia menegaskan bahwa saham bank besar menjadi sasaran utama aksi jual karena likuiditasnya yang besar, sehingga memudahkan investor asing untuk mengurangi eksposur mereka di Indonesia.