— WASHINGTON – Amerika Serikat (AS) menegaskan kembali komitmennya untuk membela Jepang dan Korea Selatan dari ancaman regional. AS menyatakan kesiapannya untuk mengerahkan seluruh kapabilitas militer, termasuk penggunaan senjata nuklir, demi melindungi kedua negara sekutunya.

Penegasan ini disampaikan dalam pernyataan bersama pasca pertemuan trilateral antara Menteri Luar Negeri AS, Jepang, dan Korea Selatan di New York. Pertemuan tersebut dilangsungkan di sela agenda Pekan Tingkat Tinggi Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Selasa (22/9/2026). Menteri Luar Negeri AS yang hadir adalah Marco Rubio, didampingi oleh Menteri Luar Negeri Jepang Toshimitsu Motegi dan Menteri Luar Negeri Korea Selatan Cho Hyun.

Payung Nuklir dan Denuklirisasi Korea Utara

Departemen Luar Negeri AS merilis dokumen resmi yang menyatakan bahwa Amerika Serikat memberikan jaminan perlindungan militer tanpa syarat melalui skema komitmen pencegahan yang diperluas. Komitmen ini menempatkan kekuatan militer AS, termasuk kapabilitas nuklirnya, sebagai benteng pertahanan utama bagi keselamatan Jepang dan Korea Selatan.

Ketiga menteri luar negeri sepakat bahwa kerja sama keamanan trilateral yang solid sangat penting untuk menghadapi dinamika geopolitik di kawasan Asia Timur.

Salah satu fokus utama yang disepakati adalah upaya mendorong denuklirisasi penuh Semenanjung Korea. Selain itu, mereka juga berkomitmen untuk menghentikan berbagai jalur pendanaan program senjata dan rudal Korea Utara, serta menindak aktivitas siber ilegal yang dimanfaatkan oleh Pyongyang.

Meskipun mengambil sikap tegas, ketiga negara menekankan bahwa saluran diplomasi tetap terbuka. AS, Jepang, dan Korea Selatan mendesak Korea Utara untuk menghentikan provokasi dan segera kembali ke meja perundingan demi memulihkan stabilitas kawasan.

Penguatan Keamanan Ekonomi dan Teknologi

Selain aspek pertahanan militer, pertemuan trilateral ini juga menghasilkan kesepakatan strategis di bidang ekonomi dan teknologi tinggi. Ketiga negara berkomitmen untuk beberapa hal, di antaranya:

  • Merespons berbagai bentuk tekanan dan pemaksaan ekonomi dari pihak luar.
  • Memperkuat mekanisme deteksi awal terhadap ancaman gangguan rantai pasok global melalui sistem peringatan dini.
  • Meningkatkan kolaborasi strategis di sektor kecerdasan buatan dan industri semikonduktor.
  • Mempromosikan reaktor nuklir modular kecil di pasar negara ketiga untuk energi bersih.

Ketegangan di kawasan Asia Timur terus meningkat seiring intensifikasi uji coba rudal balistik dan pengembangan program nuklir oleh Korea Utara. Kondisi ini mendorong AS untuk memperkuat payung nuklir bersama sekutu utamanya, Jepang dan Korea Selatan. Melalui kerja sama trilateral ini, ketiga negara berupaya menjaga perimbangan kekuatan di kawasan sekaligus memastikan ketahanan rantai pasok industri strategis global di tengah persaingan geopolitik yang kian dinamis.