DailyFX.ID — Presiden China Xi Jinping memberikan pujian hangat atas sambutan yang diberikan Presiden Amerika Serikat Donald Trump selama kunjungan kenegaraannya ke Washington. Ia menyatakan bahwa pelayanan istimewa dari tuan rumah membuat dirinya dan sang istri, Peng Liyuan, merasa seperti berada di rumah sendiri.
Pernyataan ini disampaikan oleh Xi Jinping saat berpidato dalam Jamuan Makan Malam Kenegaraan (State Dinner) yang digelar di East Room Gedung Putih, Washington, pada Kamis (24/9/2026) malam waktu setempat. “Terima kasih, Presiden Trump dan Ibu Melania, atas keramahan yang luar biasa serta pengaturan yang sangat baik bagi saya dan istri saya. Anda dan Ibu Melania telah membuat banyak pengaturan istimewa untuk kunjungan kami; Anda membuat kami benar-benar merasa seperti berada di rumah sendiri,” tutur Xi Jinping.
Kunjungan kenegaraan yang berlangsung selama tiga hari pada 23–25 September 2026 ini dinilai sebagai momen monumental dalam hubungan bilateral kedua negara. Xi menyoroti bahwa dalam waktu kurang dari enam bulan, kedua kepala negara telah saling melakukan kunjungan kenegaraan secara bergantian. Ia mengungkapkan, dirinya dan Trump telah menggelar diskusi yang tulus, mendalam, dan berhasil mencapai sejumlah kesepahaman strategis demi menjaga stabilitas hubungan bilateral kedua negara superpower tersebut.
Dalam pidatonya, Xi tak lupa mengucapkan selamat atas peringatan 250 tahun kemerdekaan AS mewakili pemerintah dan rakyat China. Ia lantas mengenang kembali jejak persahabatan panjang kedua bangsa yang telah terjalin lebih dari dua abad, mulai dari era awal kemerdekaan AS dengan koleksi porselen China, kemitraan militer dalam Perang Dunia II melalui rute penerbangan “The Hump”, diplomasi pingpong pada tahun 1970-an yang dicetuskan oleh Ketua Mao Zedong dan Presiden Richard Nixon, hingga hubungan antarmasyarakat yang ditandai dengan pertukaran pohon redwood dan aksi filantropi.
Menyinggung arah kebijakan masing-masing negara, Xi menilai semangat Trump untuk membuat Amerika kembali hebat (Make America Great Again) sejalan dengan fokus China dalam mewujudkan modernisasi dan kebangkitan nasional. “Kedua tujuan ini sama-sama ambisius dan pastinya dapat saling memperkuat. China dan AS harus bertindak sebagai negara besar yang bertanggung jawab, memenuhi harapan rakyat kita, serta menjajaki pendekatan baru bagi negara-negara besar untuk hidup berdampingan,” tegas Xi sebelum mengajak seluruh hadirin bersulang.
Di sisi lain, Trump memberikan apresiasi tinggi atas kedatangan Xi Jinping. Trump secara khusus mempersembahkan cendera mata berupa patung elang botak, simbol kebebasan nasional AS, yang dirancang khusus melalui kolaborasi pribadi antara dirinya, Melania Trump, dan seorang seniman Amerika. Trump juga menyebutkan, proyek renovasi ruang dansa (ballroom) Gedung Putih diperkirakan selesai dalam satu tahun ke depan, dan ia berjanji Xi Jinping akan menjadi salah satu tamu kehormatan pertama yang menginjakkan kaki di fasilitas baru tersebut.
Jamuan makan malam kenegaraan tersebut dipersiapkan secara detail oleh Ibu Negara AS Melania Trump dengan memadukan unsur tradisi Amerika dan seni khas China. Dekorasi ruangan didominasi oleh rangkaian bunga dahlia dan ranunculus berwarna merah segar dalam vas-vas besar, dipadukan dengan perangkat makan perak bersepuh emas (vermeil) koleksi Reagan State Service. Acara bersulang dibuka dengan sparkling wine Schramsberg “Blanc de Noir”, minuman yang sama yang digunakan oleh presiden Nixon dan Perdana Menteri China Zhou Enlai saat momen bersejarah penandatanganan perdamaian di Beijing pada 1972. Para tamu disuguhi hidangan pembuka berupa velouté labu kuning dengan pancetta renyah, dilanjutkan hidangan utama ikan sea bass balut wijen dengan terong panggang, serta ditutup dengan vanilla crémeux dan es krim madu khas Gedung Putih. Jamuan disempurnakan oleh penampilan penyanyi tenor kenamaan Christopher Macchio serta iringan musik dari korps militer Angkatan Darat dan Marinir AS.
Dinamika hubungan antara AS dan China merupakan poros geopolitik paling krusial di abad ke-21. Sebagai dua kekuatan ekonomi terbesar di dunia, dinamika hubungan kedua negara selalu memicu dampak domino pada stabilitas ekonomi, rantai pasok global, dan keamanan kawasan Pasifik. Selama beberapa tahun terakhir, hubungan AS dan China kerap diwarnai ketegangan intensif akibat persaingan teknologi, tarif perdagangan, isu geopolitik di Selat Taiwan dan Laut China Selatan, serta perbedaan pandangan mengenai hak asasi manusia. Meskipun kompetisi strategis antarnegara tidak terelakkan, kedua pihak menyadari risiko destruktif dari eskalasi konflik terbuka (Cold War 2.0). Oleh karena itu, diplomasi tingkat tinggi (leader-to-leader diplomacy) seperti kunjungan kenegaraan timbal balik ini menjadi instrumen penting untuk memagari persaingan (guardrails), menjaga saluran komunikasi tetap terbuka, serta mencari titik temu dalam kerja sama pragmatis mulai dari stabilitas keuangan global, perubahan iklim, hingga penanganan krisis keamanan internasional.
Ikuti DailyFX.ID
