DailyFX.ID — WASHINGTON – Taktik pengamanan ekstrem yang diterapkan Dinas Rahasia Amerika Serikat (US Secret Service) untuk melindungi Presiden Donald Trump dari potensi ancaman rudal Iran memicu perdebatan etika mendunia. Langkah ini melibatkan penggunaan pesawat yang berisi rombongan jurnalis sebagai “umpan” atau decoy.
Menurut laporan The Washington Post pada Rabu (12/8/2026), Trump diam-diam turun dari pesawat utama dan diselundupkan menggunakan truk katering bandara. Kejadian ini berlangsung hanya beberapa menit setelah ia terekam menaiki Air Force One di Turki pada Juli 2026.
Sementara itu, The Wall Street Journal melaporkan evakuasi rahasia tersebut dilakukan setelah Amerika Serikat menerima data intelijen dari Israel mengenai ancaman rudal darat-ke-udara milik Iran yang menyasar pesawat kepresidenan.
Pesawat utama tetap lepas landas dari Turki, wilayah yang berbatasan langsung dengan Iran. Pesawat tersebut mengangkut puluhan jurnalis dan sejumlah staf Gedung Putih yang sebelumnya mendampingi Trump dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) di Ankara.
“Skenario ini terasa lebih mirip alur film Netflix daripada kenyataan. Skema rumit dengan truk katering ini mengindikasikan ancaman tersebut serius,” ujar Asli Aydintasbas, pakar kebijakan luar negeri dari Brookings Institution Washington.
Trump sendiri memberikan klarifikasi pertamanya mengenai insiden tersebut. Ia menyatakan bahwa pesawat yang ia tumpangi justru berada dalam risiko yang lebih tinggi. “Saya rasa pesawat yang saya naiki lebih berbahaya, karena pesawat itulah yang kemungkinan besar akan disasar,” kata Trump kepada wartawan dalam perjalanan kembali ke Washington usai menghadiri acara di Ohio.
Trump menegaskan bahwa ia hanya mematuhi protokol instruksi dari Secret Service dan militer AS. “Merekalah yang meminta saya untuk pindah ke pesawat yang berbeda dengan tingkat keamanan setara. Karena mereka yang meminta, maka saya melakukannya,” ujar Trump.
Umpan Jurnalis dan Staf Gedung Putih?
Dalam laporan terpisah, seorang pejabat AS yang dikutip The Wall Street Journal mengungkapkan bahwa Menteri Luar Negeri Marco Rubio juga tetap berada di dalam pesawat pertama bersama rombongan pers. Langkah ini memicu kritik pedas dari analis politik sekaligus pakar strategi Partai Demokrat, David Axelrod.
“Semua orang di pesawat itu pada dasarnya dijadikan umpan. Jika penerbangan itu dianggap tidak aman bagi presiden, artinya penerbangan tersebut juga tidak aman bagi orang lain di dalamnya,” tegas Axelrod.
Gedung Putih tidak membantah laporan tersebut. “Seperti yang baru-baru ini disampaikan Presiden, ada banyak musuh Amerika yang mengincarnya, dan kami menggunakan setiap sarana yang ada untuk mengatasi ancaman tersebut,” jelas keterangan resmi istana.
Terkait ancaman rudal tersebut, Trump mengaku tidak mengetahui secara pasti rincian intelijennya. “Saya hanya tahu ada ancaman di luar sana dan tidak terlalu banyak bertanya. Saya menerima banyak ancaman yang tidak diketahui publik,” lanjutnya.
Mantan penasihat Departemen Luar Negeri AS pada era administrasi Biden, Ned Price, mengakui penyamaran terkadang menjadi bagian dari pengamanan. Namun, ia mengecam tindakan penyesatan informasi terhadap publik dan media.
“Menyesatkan jurnalis pada saat kejadian, dan lebih buruk lagi, terus membohongi rakyat Amerika berminggu-minggu setelahnya adalah hal yang tidak dapat diterima,” tulis Price melalui platform X.
Protokol Pengamanan dan Dampak Geopolitik
Pakar perjalanan pengamanan dari University of New Haven yang juga mantan agen Secret Service selama lebih dari 20 tahun, Robert McDonald, menjelaskan bahwa penggunaan pesawat cadangan (backup plane) adalah prosedur standar internasional.
McDonald meyakini bahwa pesawat pengalih tersebut tetap mendapat pengawalan ketat dari armada udara sekutu. “Tidak ada yang membiarkan jurnalis atau staf Gedung Putih begitu saja tanpa perlindungan. Mereka semua bagian dari rencana pengamanan,” jelas McDonald.
Sebelumnya, Trump terbang ke Ankara menggunakan pesawat Air Force One baru hibah dari Qatar dalam kunjungan kerja internasional pertamanya. Namun usai KTT NATO, Trump mengumumkan akan kembali menggunakan pesawat Air Force One model lama “demi kenangan masa lalu.” Laporan belakangan menyebutkan pesawat baru tersebut belum dilengkapi sistem pertahanan keamanan sekomprehensif model lama.
Kamera televisi sempat merekam Trump menaiki pesawat lama tersebut di Ankara. Namun, The Washington Post mengungkapkan Trump secara diam-diam dipindahkan ke pesawat militer Air Force C-32A yang lebih kecil melalui truk katering makanan. Para jurnalis di pesawat utama dilaporkan tidak mengetahui adanya ancaman tingkat tinggi tersebut.
Di sisi lain, Aydintasbas menilai insiden ini dapat dimanfaatkan sebagai narasi propaganda domestik oleh Iran. “Ini adalah poin propaganda besar bagi Garda Revolusi Iran (IRGC). Narasi bahwa NATO dan militer AS yang terkuat di dunia harus membuat skenario penyamaran rumit hanya untuk memindahkan presiden mereka, akan menjadi kebanggaan tersendiri bagi Iran bahwa mereka masih sanggup menanamkan rasa takut kepada Barat,” pungkasnya.
Taktik pengamanan darurat yang melibatkan Presiden AS Donald Trump di Turki terjadi di tengah puncak ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran yang memanas sejak awal tahun. Ancaman terhadap keselamatan fisik kepala negara menjadi kekhawatiran utama intelijen AS seiring meningkatnya intensitas konfrontasi di wilayah Timur Tengah.
Penggunaan pesawat Air Force One, yang dikenal sebagai simbol kekuatan udara dan pusat komando seluler Presiden AS, umumnya dilengkapi dengan sistem pertahanan anti-rudal canggih. Namun, kemunculan ancaman rudal darat-ke-udara (surface-to-air missile) di wilayah yang berdekatan dengan perbatasan Iran memaksa tim Secret Service menerapkan skenario pengalihan berisiko tinggi.
Insiden penyamaran ini menggarisbawahi besarnya potensi bahaya geopolitik yang mengintai para pemimpin dunia saat melintas di kawasan konflik.
Ikuti DailyFX.ID
