— Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat bauran energi baru dan terbarukan (EBT) Indonesia terkoreksi menjadi 17% pada triwulan I-2026. Angka ini lebih rendah dibandingkan capaian triwulan pertama tahun yang sama yang mencapai 18%.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menjelaskan bahwa penurunan ini diperkirakan dipengaruhi oleh masuknya pembangkit listrik berbahan bakar gas. “Hari ini bauran energi baru terbarukan 17%. Kemarin, di triwulan pertama (2026) 18%, Pak Menteri. Mungkin ada sedikit masuk pembangkit gas dan seperti lainnya, maka sedikit terkoreksi,” ujar Eniya Listiani Dewi di Jakarta, Rabu (19/8/2026).

Kontribusi terbesar terhadap bauran EBT berasal dari FAME atau Fatty Acid Methyl Ester, dengan porsi 5,2%. FAME merupakan komponen utama dalam program biodiesel yang dicampurkan ke solar fosil, dengan bahan baku umumnya berasal dari minyak kelapa sawit.

Setelah FAME, komponen dengan kontribusi terbesar adalah energi hidro atau pembangkit listrik tenaga air (PLTA), yang mencapai 3,5% dari total bauran EBT.

Energi panas bumi berkontribusi sebesar 2,2% terhadap bauran EBT Indonesia. Eniya berharap porsi energi panas bumi dapat meningkat menjadi 4,5% seiring dengan tambahan kapasitas pembangkit dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL). “Kami harapkan di akhir RUPTL nanti, dengan naiknya 5,2 giga, porsinya menjadi 4,5%,” kata Eniya.

Sementara itu, pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) masih memiliki kontribusi paling kecil, yaitu 0,5% dari bauran EBT. Capaian ini perlu mendapat perhatian, terutama setelah Presiden Prabowo Subianto memberikan arahan terkait pengembangan PLTS berkapasitas 100 gigawatt (GW). “Kami harapkan itu bisa menjadi kontributor untuk menaikkan energi baru terbarukan,” ujar Eniya.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyatakan komitmen pemerintah untuk membangun PLTS berkapasitas 30 GW sekaligus menghentikan pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) sebesar 13 GW pada tahun 2026. Langkah ini merupakan bagian dari rencana pengembangan PLTS berkapasitas 100 GW.

Presiden Prabowo menyoroti potensi energi surya Indonesia yang besar karena sinar matahari yang melimpah hampir sepanjang tahun. Potensi ini dinilai sangat strategis untuk penyediaan listrik, khususnya di wilayah-wilayah terpencil.