— JAKARTA – Bank Indonesia (BI) telah mengidentifikasi tiga jalur utama yang berpotensi membawa dampak ketegangan geopolitik terhadap perekonomian Indonesia. Ketiga jalur tersebut meliputi sektor komoditas, finansial, dan perdagangan. Situasi ekonomi global yang penuh tekanan ini juga turut meningkatkan ketidakpastian di pasar keuangan.

Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menjelaskan bahwa dampak melalui jalur komoditas tercermin dari kenaikan harga komoditas saat tekanan ekonomi global meningkat. Lonjakan tensi perang di Timur Tengah, misalnya, turut mendorong kenaikan harga minyak mentah.

“Year to date kita hitung kalau Brent itu sekitar US$ 92 per barel itu yang terjadi. Tentunya ini akan berdampak,” ujar Destry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur BI Bulan September 2026 di Gedung Thamrin, BI, Rabu (23/9/2026).

Berdasarkan data Oilprice.com, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) pada September sempat melonjak ke level US$ 105,83 per barel sebelum akhirnya turun ke kisaran US$ 90 per barel. Minyak Brent pun mengalami tren serupa, sempat menyentuh US$ 108,75 per barel dan kini berada di kisaran US$ 99 per barel.

Jalur kedua yang diwaspadai adalah jalur finansial. Dampaknya terlihat dari kenaikan imbal hasil atau yield surat utang Amerika Serikat (AS) atau US Treasury tenor 10 tahun, yang sebelumnya berada di angka 4,5% kini naik menjadi 5,2%. Selain itu, Bank Sentral AS (Federal Reserve) telah menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%-4%. Kenaikan suku bunga acuan juga dilaporkan terjadi di Bank of Japan dan European Central Bank (ECB).

“Artinya sudah terjadi dampak dari harga-harga komoditas tersebut kepada inflasi. Kalau dari sisi pertumbuhan ekonomi, kami melihat pertumbuhan ekonomi global itu tidak bergerak sekitar 3% di 2026,” tambah Destry.

Sementara itu, jalur ketiga adalah perdagangan. Aktivitas perdagangan antarnegara sangat bergantung pada laju perekonomian global. Ketika tekanan ekonomi meningkat, potensi optimalisasi aktivitas ekspor dan impor dapat terganggu.

Destry menuturkan, kenaikan harga komoditas global akan berdampak pada harga impor komoditas minyak dan gas (migas). Namun, kenaikan harga komoditas nonmigas justru dapat memberikan pemasukan tambahan bagi Indonesia melalui komoditas seperti minyak mentah kelapa sawit, batu bara, hingga nikel.

“Kenaikan harga komoditas-komoditas tersebut memberikan dampak positif terhadap perekonomian domestik. Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 berada dalam kisaran 4,9–5,7%,” pungkasnya.