— Harga Bitcoin (BTC) menunjukkan lonjakan signifikan, mencapai US$ 86.000 pada perdagangan Selasa pagi (22/9/2026). Kenaikan ini menempatkan Bitcoin pada level tertingginya sejak akhir Januari dan memicu gelombang likuidasi besar pada posisi short di pasar kripto.

Data CoinMarketCap pada pukul 06.45 WIB mencatat harga Bitcoin hari ini bertambah 6,54%, menyentuh US$ 86.490 per koin atau setara dengan Rp 1,54 miliar, dengan kurs yang diasumsikan Rp17.858 per dolar AS.

Kapitalisasi pasar kripto global turut mengalami peningkatan pesat, naik 5,4% dalam 24 jam terakhir menjadi US$ 2,93 triliun. Indeks CoinDesk 20, yang melacak kinerja 20 aset kripto terbesar, juga melonjak 6,15%.

Ethereum (ETH) mencatat kenaikan 4,9% menjadi US$ 2.772, sementara Binance Coin (BNB) menguat 3,31% ke level US$ 798.

Lonjakan harga Bitcoin ini terjadi bersamaan dengan penurunan harga minyak dan penguatan saham-saham Amerika Serikat, menurut laporan CoinTelegraph. Penurunan harga minyak ini memberikan sentimen positif bagi aset berisiko.

Harapan akan dimulainya kembali negosiasi diplomatik untuk mengakhiri konflik AS-Iran turut menekan harga minyak dan memperbaiki selera risiko investor secara umum.

Secara bersamaan, reli Bitcoin telah memicu likuidasi besar-besaran pada posisi short. Data yang dihimpun dari berbagai sumber menunjukkan nilai likuidasi posisi short kripto mendekati US$ 800 juta dalam periode 24 jam.

Kondisi ini memperkuat momentum kenaikan Bitcoin dan meningkatkan optimisme terhadap prospek pasar kripto secara keseluruhan. The Kobeissi Letter bahkan mengindikasikan pasar kripto telah memasuki fase ‘new bull market’, dengan Bitcoin mencatatkan kenaikan sekitar 50% dalam dua bulan terakhir. Namun, pandangan ini masih bersifat analisis pasar dan belum menjadi konfirmasi terbentuknya tren bullish jangka panjang.

Bitcoin Butuh Konfirmasi

Bitfinex Alpha berpendapat bahwa sejumlah syarat masih perlu dipenuhi agar kenaikan Bitcoin dapat berlanjut. Faktor penting yang perlu diperhatikan adalah dukungan dari pembeli, peningkatan open interest, serta arus dana baru yang masuk ke ETF Bitcoin spot AS.

Menurut Bitfinex Alpha, breakout perlu dikonfirmasi oleh peningkatan net taker buying, bukan hanya aksi short covering. Peningkatan open interest berbasis Bitcoin juga diperlukan untuk menunjukkan adanya pembentukan posisi baru di pasar.

Sebaliknya, jika harga Bitcoin ditutup di bawah US$ 77.100, hal ini dinilai dapat membatalkan struktur bullish yang ada dan membuka potensi penurunan menuju US$ 76.677.

Sementara itu, analis kripto Rekt Capital menilai bahwa Bitcoin telah berhasil menembus pola lower high yang terbentuk sejak Oktober 2025. Ia berpendapat kondisi ini mengindikasikan berakhirnya tren turun makro sebelumnya.

Rekt Capital mengidentifikasi rentang target berikutnya berada di antara US$ 86.681 hingga US$ 93.659. “Jika Bitcoin siap mengonfirmasi breakout dari rentang US$ 60.000-80.000, tonggak berikutnya adalah mencoba masuk ke rentang US$ 86.681-93.659,” tulisnya dalam analisisnya.