— Harga Bitcoin (BTC) mencatat kenaikan signifikan, menembus level US$ 81.000 pada perdagangan Sabtu (19/9/2026) pagi. Lonjakan ini terjadi di tengah kembali naiknya imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) dan gejolak harga minyak dunia.

Berdasarkan data CoinMarketCap pukul 07.40 WIB, harga Bitcoin melonjak 6,34% menjadi US$ 81.227,12 per koin. Kapitalisasi pasar kripto global juga terpantau melejit 5,83% dalam 24 jam terakhir, mencapai US$ 2,77 triliun. Indeks CoinDesk 20, yang melacak kinerja 20 aset kripto terbesar, juga mengalami kenaikan 6,46%.

Aset kripto lainnya turut merasakan dampak positif. Ethereum (ETH) tercatat terbang 7,31% menjadi US$ 2.619, sementara Binance Coin (BNB) melesat 3,68% ke angka US$ 762.

Menurut CoinTelegraph, pergerakan Bitcoin menembus US$ 80.000 terjadi pada awal perdagangan Wall Street Jumat (18/9/2026). Data TradingView menunjukkan pasangan BTC/USD sempat menyentuh US$ 81.034 di platform Bitstamp.

Lonjakan harga ini memicu likuidasi posisi short dalam jumlah besar. Data CoinGlass melaporkan likuidasi posisi short kumulatif di pasar kripto mencapai hampir US$ 250 juta hanya dalam waktu empat jam.

Pergerakan Bitcoin terjadi di saat pasar global masih dibayangi oleh gejolak harga energi. Harga minyak mentah WTI sempat mengalami penurunan ke kisaran US$ 94,8 per barel sebelum akhirnya kembali naik dan berada di level US$ 98.

Badan Energi Internasional (IEA) telah mengeluarkan peringatan bahwa negara-negara mungkin perlu mengurangi konsumsi energi jika gangguan pasokan minyak terus berlanjut.

Yield Obligasi AS Naik

Ketidakpastian di pasar energi turut mendorong kenaikan imbal hasil obligasi AS. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun dilaporkan mencapai 5,34%, mengalami kenaikan sekitar 90 basis poin pada perdagangan Jumat.

Kenaikan yield juga terlihat di sejumlah negara lain dan menjadi perhatian pasar, terutama setelah bank sentral AS dan Jepang menaikkan suku bunga pada pekan ini.

Trader dan analis Rekt Capital mengemukakan bahwa Bitcoin kini menghadapi level penting yang akan menentukan arah pergerakan selanjutnya. Dalam analisisnya melalui X, level US$ 82.000 diidentifikasi sebagai area kunci yang harus ditembus oleh Bitcoin.

Jika Bitcoin gagal menembus level tersebut, pergerakan ini berpotensi membentuk pola penolakan ganda, serupa dengan pola yang terjadi pada akhir reli Bitcoin di pertengahan Mei. Di sisi lain, kenaikan terbaru ini menempatkan Bitcoin kembali di atas True Market Mean, yaitu rata-rata biaya perolehan seluruh Bitcoin yang telah dibeli di pasar sekunder, yang saat ini berada di kisaran US$ 76.660.

Platform analitik on-chain Glassnode menyatakan bahwa posisi Bitcoin yang kembali berada di atas level tersebut menandakan aset kripto ini memasuki rezim bullish. Sementara itu, biaya perolehan Bitcoin yang dimiliki perusahaan sebagai aset treasury berada di sekitar US$ 80.500, yang turut memperkuat signifikansi area harga Bitcoin saat ini.