DailyFX.ID — JAKARTA – Federal Reserve (The Fed) kembali menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin (bps) ke kisaran 3,75%–4,00% dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 15–16 September 2026. Keputusan ini merupakan kenaikan suku bunga pertama The Fed sejak tahun 2023 dan diambil secara bulat oleh para anggotanya.
Menariknya, kenaikan suku bunga acuan tersebut tidak serta-merta menekan pergerakan harga Bitcoin (BTC). Aset kripto ini justru menunjukkan tren positif, bergerak naik dari kisaran US$ 75.400 menjelang pengumuman menjadi US$ 76.000 setelah keputusan The Fed dirilis pada Kamis (17/9/2026).
Chief Marketing Officer INDODAX, Aloysia Dian, menjelaskan bahwa respons Bitcoin tersebut mengindikasikan hubungan antara kebijakan makroekonomi dan harga aset kripto tidak selalu bersifat langsung. Ia menekankan bahwa kebijakan suku bunga memang menjadi faktor penting, namun bukan satu-satunya penggerak pasar kripto.
“Reaksi harga juga dipengaruhi oleh ekspektasi yang sudah terbentuk sebelumnya, arus dana, sentimen, serta perkembangan spesifik di industri kripto. Dalam kondisi ini, kenaikan suku bunga sudah banyak diantisipasi, sehingga sebagian dampaknya kemungkinan telah tercermin pada harga sebelum keputusan diumumkan,” jelasnya dalam keterangan tertulis, Jumat (18/9/2026).
Aloysia menambahkan, menjelang keputusan FOMC, pasar memang telah memperkirakan cukup tinggi kemungkinan kenaikan suku bunga. Ketika hasil akhir sesuai dengan ekspektasi pasar, sebagian tekanan dapat dikatakan sudah tercermin sebelum pengumuman. Dengan demikian, keputusan yang sudah banyak diantisipasi pasar tidak selalu menghasilkan reaksi negatif tambahan.
Meskipun Bitcoin mengalami penguatan pasca pengumuman, arah kebijakan The Fed tetap menjadi salah satu faktor yang perlu dicermati oleh pasar. Proyeksi terbaru dari The Fed menunjukkan mayoritas pejabat bank sentral Amerika Serikat tersebut masih melihat adanya kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan hingga akhir tahun 2026. Selain itu, The Fed juga menaikkan proyeksi inflasi tahun 2026 menjadi 3,7% dari sebelumnya 3,6%, sementara proyeksi pertumbuhan ekonomi dinaikkan menjadi 2,3%.
Fokus utama bank sentral AS tersebut masih tertuju pada upaya pengendalian inflasi. Namun, arah kebijakan berikutnya belum ditentukan secara pasti dan akan terus bergantung pada perkembangan data ekonomi. Oleh karena itu, pasar perlu melihat kebijakan The Fed sebagai salah satu bagian dari konteks yang lebih luas, yang mencakup faktor likuiditas, arus dana, sentimen pasar, dan perkembangan terkini di industri kripto.
Aloysia menyarankan agar investor melihat pergerakan Bitcoin setelah FOMC secara lebih proporsional. “Penguatan Bitcoin setelah FOMC perlu dilihat sebagai dinamika pasar yang lebih luas, bukan sebagai tanda bahwa seluruh risiko telah mereda. Investor tetap perlu mencermati arah inflasi, kebijakan The Fed berikutnya, arus dana institusional, dan kondisi likuiditas global,” tegasnya.
Di sisi lain, dinamika khusus dalam industri kripto seperti arus masuk ETF Bitcoin, perkembangan regulasi aset digital, sentimen pasar, dan posisi leverage juga tetap memerlukan perhatian. Kombinasi faktor-faktor inilah yang dapat membuat aset kripto memiliki karakteristik yang lebih unik dibandingkan aset berisiko lainnya.
Sebagai bursa kripto yang berlisensi di Indonesia, INDODAX mengingatkan para investor untuk tidak mengambil keputusan semata-mata berdasarkan reaksi harga sesaat. Penting bagi investor untuk tetap mempertimbangkan profil risiko masing-masing, mengelola posisi secara disiplin, serta melakukan riset mandiri sebelum melakukan transaksi.
Ikuti DailyFX.ID
