DailyFX.ID — Harga Bitcoin (BTC) dilaporkan bertahan di level US$ 81.000 pada perdagangan Senin (21/9/2026) pagi. Posisi ini dicapai meski pasar aset kripto sebelumnya diguncang oleh kenaikan suku bunga The Fed serta kegagalan pengesahan Clarity Act di Senat Amerika Serikat.
Berdasarkan data CoinMarketCap pukul 06.10 WIB, harga Bitcoin hari ini mengalami pelemahan tipis 0,08% menjadi US$ 81.163,14 per koin. Kapitalisasi pasar kripto global tercatat menguat 0,27% dalam 24 jam terakhir, mencapai US$ 2,78 triliun. Indeks CoinDesk 20, yang melacak kinerja 20 aset kripto terbesar, juga mencatat kenaikan tipis 0,02%.
Aset kripto lainnya juga menunjukkan pergerakan positif. Ethereum (ETH) meningkat 0,14% menjadi US$ 2.634, sementara Binance Coin (BNB) melonjak 1,65% menjadi US$ 773.
Ketahanan Bitcoin menjadi sorotan, terutama setelah aset kripto ini mampu melewati sejumlah tekanan dalam sepekan terakhir. Pasar sempat memperkirakan bahwa kenaikan suku bunga The Fed dan kegagalan Clarity Act dapat memicu aksi jual yang lebih besar. Namun, Bitcoin justru kembali bertahan di atas US$ 81.000.
Kegagalan Clarity Act terjadi pada 15 September, ketika Senat AS gagal memajukan rancangan undang-undang tersebut setelah voting prosedural hanya memperoleh 49 suara, jauh di bawah ambang 60 suara yang dibutuhkan. Sejumlah analis menilai ketahanan harga Bitcoin menunjukkan pasar mampu menyerap beberapa guncangan sekaligus tanpa perubahan harga yang signifikan.
Sebelum pemungutan suara Clarity Act, Bitcoin sempat mengalami penurunan hingga mendekati US$ 75.000. Pasca hasil voting diumumkan, pasar kripto kembali merasakan tekanan, dengan Bitcoin sempat bergerak di kisaran US$ 76.000.
Analis Nexo Dispatch, Ilya Kalchev, berpendapat bahwa pemulihan Bitcoin setelah kegagalan Clarity Act, keputusan The Fed, serta aksi likuidasi besar-besaran lebih mengindikasikan fase konsolidasi. Ia menilai pasar belum menunjukkan sinyal breakout dalam waktu dekat.
Kalchev menambahkan bahwa pergerakan Bitcoin berikutnya akan membutuhkan katalis baru. Setelah mampu menyerap tiga guncangan berbeda tanpa mengalami penurunan harga yang besar, Bitcoin dinilai memiliki peluang lebih besar untuk bergerak dalam rentang tertentu dibandingkan langsung menembus level baru.
Ia memproyeksikan US$ 77.950 sebagai level pertama yang perlu dilewati Bitcoin, diikuti oleh US$ 79.300 dan US$ 80.000. Jika mampu bertahan di atas US$ 80.000, Bitcoin berpotensi bergerak menuju US$ 81.400. “Sebaliknya, penurunan di bawah US$ 75.000 akan kembali mempertanyakan kekuatan pemulihan,” jelasnya.
Regulasi Masih Jadi Sorotan
Kegagalan Clarity Act menimbulkan ketidakpastian regulasi bagi industri kripto di AS. Meskipun demikian, sejumlah pelaku industri meyakini hal ini tidak menghentikan langkah regulator seperti Securities and Exchange Commission (SEC) dan Commodity Futures Trading Commission (CFTC) dalam menyusun aturan untuk aset digital.
Perkembangan regulasi ini menjadi salah satu faktor penting yang terus dicermati oleh investor. Selain itu, pasar juga memantau kondisi likuiditas global dan arus investasi ke produk berbasis Bitcoin.
Sementara itu, Vineet Budki, Managing Partner sekaligus CEO Sigma Capital, mengingatkan bahwa pemulihan Bitcoin saat ini belum cukup untuk memastikan titik terendah harga telah terbentuk. Menurutnya, investor perlu mengamati perkembangan harga dalam beberapa waktu ke depan, terutama mengingat suku bunga yang masih tinggi dan potensi perlambatan pasar perumahan AS yang dapat meningkatkan sikap kehati-hatian investor.
Pasar selanjutnya akan mencermati sejumlah data ekonomi AS, termasuk laporan tenaga kerja yang dijadwalkan pada 2 Oktober dan data inflasi konsumen atau Consumer Price Index (CPI) pada 14 Oktober.
Kalchev menilai arus dana masuk yang berkelanjutan ke exchange-traded fund (ETF) Bitcoin atau peningkatan pembelian spot dapat menjadi sinyal penting jika Bitcoin bersiap keluar dari fase konsolidasi.
Ikuti DailyFX.ID
