— BRI Danareksa Sekuritas merevisi turun target harga saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA) menjadi Rp 530 per saham dari sebelumnya Rp 550. Perubahan ini dipicu oleh proyeksi laba bersih yang lebih rendah pada 2026, dipengaruhi oleh peningkatan belanja modal (capital expenditure/capex) dan percepatan internalisasi armada perusahaan.

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Erindra Krisnawan, menjelaskan bahwa proyeksi capex Darma Henwa tahun ini meningkat signifikan menjadi Rp 2,55 triliun, naik dari estimasi awal Rp 833 miliar. Peningkatan belanja modal jangka pendek ini diperkirakan akan mendorong depresiasi dan biaya pendanaan yang lebih tinggi.

Akibatnya, proyeksi laba bersih emiten berkode saham DEWA untuk tahun 2026 dipangkas 9,7% menjadi Rp 676 miliar. “Tekanan dari belanja modal mulai terlihat pada kinerja semester I-2026. Laba inti DEWA turun 7% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp 158 miliar akibat kenaikan depresiasi terkait belanja modal serta biaya pendanaan yang lebih tinggi,” ujar Erindra dalam risetnya, Kamis (20/8/2026).

Biaya tersebut juga mencakup penalti pembiayaan kembali yang bersifat satu kali sebesar Rp 45,6 miliar terkait fasilitas kredit sindikasi BCA-Mandiri senilai Rp 4,54 triliun. Namun, laba bersih yang dilaporkan Darma Henwa pada semester I-2026 justru melonjak 111% yoy menjadi Rp 354 miliar. Pertumbuhan ini didukung oleh keuntungan nilai wajar sebesar Rp 229,4 miliar dari Pendopo Coal.

Pendapatan perusahaan pada semester I-2026 tercatat Rp 3,2 triliun, meningkat 3% yoy. Sementara itu, inisiatif internalisasi armada di Bengalon mulai menunjukkan hasil positif dengan mendorong margin EBITDA menjadi 29,8% pada kuartal II-2026, naik dari 28,5% pada kuartal I-2026.

Prospek Jangka Panjang Tetap Cerah

BRI Danareksa Sekuritas memandang bahwa tekanan terhadap laba Darma Henwa bersifat sementara. Profitabilitas perusahaan diperkirakan akan membaik pada semester II-2026. Hal ini seiring dengan kontribusi penuh dari internalisasi armada Bengalon selama satu kuartal penuh dan peningkatan bertahap pada proyek Sebuku.

Meskipun menekan kinerja jangka pendek, percepatan penggunaan armada milik sendiri diproyeksikan memberikan manfaat yang lebih besar di tahun-tahun mendatang. Margin EBITDA Darma Henwa pada 2026 dan 2027 diproyeksikan masing-masing mencapai 30,1% dan 34,3%. “Proyeksi laba bersih DEWA 2027 juga dinaikkan 7,6% menjadi Rp 1,64 triliun. Angka tersebut mencerminkan pertumbuhan 143% yoy,” ungkap Erindra.

Percepatan internalisasi armada menjadi salah satu faktor kunci yang mendukung perbaikan margin. Selain itu, peningkatan bertahap proyek Sebuku juga diperkirakan akan memperkuat pertumbuhan perusahaan pada 2027.

Dampak Kebijakan Industri dan Keunggulan Kompetitif

Di tengah ekspansi perusahaan, sektor kontraktor pertambangan secara umum menghadapi tekanan. Hal ini disebabkan oleh pemangkasan kuota Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 menjadi sekitar 600 juta ton dari sebelumnya 790 juta ton. Produksi aktual pada 2025 tercatat sebesar 817 juta ton.

Pemangkasan kuota ini berpotensi menyebabkan sejumlah kontraktor mengalami armada yang menganggur dan neraca keuangan yang semakin tertekan. Namun, fokus Darma Henwa pada aset-aset PT Bumi Resources Tbk (BUMI), yaitu PT Kaltim Prima Coal (KPC) dan Arutmin, dinilai memberikan perlindungan terhadap risiko volume.

Perusahaan tambang eks pemegang perjanjian karya pengusahaan pertambangan batu bara yang telah berstatus izin usaha pertambangan khusus (IUPK) memperoleh persetujuan atas 100% usulan RKAB mereka. BRI Danareksa menilai kondisi ini memberikan kepastian volume bagi Darma Henwa di tengah tekanan industri.

Darma Henwa juga dinilai memiliki posisi biaya yang kompetitif. Dengan kepastian volume tersebut, perusahaan menawarkan harga jual rata-rata (average selling price/ASP) sebesar US$ 2,2 per bank cubic meter (bcm). Tarif ini diperkirakan sekitar 30%-40% lebih rendah dibandingkan tarif pesaing utama.

Keunggulan biaya ini ditopang oleh penggunaan armada buatan China yang biayanya sekitar 70%-80% dari merek Barat/Jepang, serta unit hibrida. Meskipun demikian, BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy untuk saham DEWA.

Target harga baru saham DEWA didukung oleh kepastian volume dari KPC dan Arutmin, serta potensi tambahan dari Gayo Mineral Resources (GMR) yang belum sepenuhnya tercermin pada harga saham saat ini. Saham DEWA diperdagangkan pada price to earnings ratio (P/E) sebesar 23,9 kali berdasarkan proyeksi 2026. Risiko utama yang perlu diwaspadai mencakup pembatasan RKAB, keterlambatan penempatan armada, dan tekanan biaya.