— Pemerintah China menyatakan dukungan penuh terhadap usulan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto mengenai penguatan kolaborasi rantai pasok industri antarnegara anggota BRICS. Dukungan ini disampaikan oleh Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun dalam konferensi pers di Beijing.

Guo menegaskan, otoritas China berkomitmen untuk terus meningkatkan integrasi dan ketahanan ekonomi di antara negara-negara berkembang. Sikap positif ini merupakan respons atas pidato Presiden Prabowo dalam sesi kedua Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-18 BRICS di New Delhi.

Dalam forum tersebut, Presiden Prabowo mengajak seluruh anggota BRICS untuk memperkuat kerja sama di bidang industrialisasi guna menghadapi tantangan ekonomi global. Ia menyoroti kekayaan sumber daya alam Indonesia, seperti mineral kritis, logam tanah jarang, serta potensi energi terbarukan yang dapat dimanfaatkan untuk teknologi bersih dan industri tinggi masa depan.

Prabowo menekankan bahwa tantangan yang dihadapi Indonesia juga dirasakan oleh negara-negara di kawasan Global South, sehingga kolaborasi antarbangsa menjadi kunci utama. Menanggapi gagasan tersebut, Guo Jiakun menjelaskan komitmen BRICS dalam menggerakkan sinergi industri telah terbukti melalui pelbagai inisiatif nyata.

Beberapa langkah kongkrit yang telah dijalankan oleh BRICS meliputi:

  • Pusat Inovasi Kemitraan BRICS: Wadah untuk mendorong adopsi teknologi dan Revolusi Industri Baru di antara negara anggota.
  • Pusat Kompetensi Industri BRICS: Fasilitas pelatihan dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) guna memperkuat daya saing industri domestik.

Guo menegaskan China siap memperkuat kerja sama teknologi, memperdalam penyelarasan rantai pasok, serta menjalankan proyek peningkatan kapasitas demi mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan, berkualitas tinggi, dan tahan terhadap krisis.

KTT ke-18 BRICS yang mengusung empat pilar utama yakni ketahanan (resilience), inovasi, kerja sama, dan keberlanjutan (sustainability) dihadiri oleh jajaran pemimpin dunia. Saat ini, BRICS diperkuat oleh 11 negara anggota utama yang mencakup hampir 49,5% populasi dunia, 40% Produk Domestik Bruto (PDB) global, serta 26% dari total volume perdagangan dunia.

Penguatan kerja sama rantai pasok ini diyakini akan makin memperkokoh posisi blok tersebut dalam rantai nilai global. Keikutsertaan aktif Indonesia dalam forum BRICS menandai pergeseran penting dalam peta diplomasi ekonomi internasional. Sebagai negara berkembang dengan kekayaan SDA melimpah, Indonesia memiliki posisi tawar strategis dalam mendukung transisi energi global dan penyediaan pasokan industri manufaktur dunia.

Ketergantungan rantai pasok global pada wilayah tertentu kerap memicu kerentanan ekonomi, terutama saat terjadi krisis geopolitik atau disrupsi perdagangan. Dalam konteks ini, aliansi negara-negara Global South yang terhimpun dalam BRICS berupaya membangun ekosistem ekonomi yang lebih inklusif dan berkeadilan. Usulan kolaborasi industrialisasi yang diusung Indonesia menjadi langkah nyata untuk mengubah posisi negara berkembang, dari sekadar penyedia bahan mentah menjadi bagian utama dalam rantai nilai tambah global.