DailyFX.ID — JAKARTA – Kementerian Keuangan memastikan akan mempertahankan proyeksi defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 di angka 2,85% terhadap produk domestik bruto (PDB). Angka ini sedikit lebih tinggi dari asumsi awal yang diproyeksikan sebesar 2,68% PDB. Penyesuaian ini mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk percepatan belanja di akhir tahun dan dinamika perekonomian global.
Menteri Keuangan, Suahasil Nazara, menjelaskan bahwa hingga akhir Agustus 2026, defisit APBN tercatat sebesar Rp 240,1 triliun atau setara 0,93% terhadap PDB. Meskipun angka tersebut masih berada di bawah 1% PDB, Kemenkeu memperkirakan defisit akan melebar hingga mencapai 2,85% PDB pada akhir tahun. Perkiraan ini telah dihitung dan dimasukkan dalam Laporan Semester (Lapsem) pelaksanaan APBN 2026.
“Hingga akhir Agustus, kinerja APBN itu tetap kuat dengan keseimbangan primer yang positif, defisit tetap dalam batasan yang terkendali, dan ini artinya memang perjalanan APBN-nya relatively on track,” ujar Suahasil dalam Konferensi Pers APBN Kita di Jakarta, Jumat (18/9/2026).
Hingga akhir Agustus, realisasi pendapatan negara mencapai Rp 2.055,6 triliun, atau sekitar 65% dari target tahun ini. Sementara itu, belanja negara tercatat sebesar Rp 2.295 triliun. Selisih antara pendapatan dan belanja inilah yang membentuk defisit APBN sebesar Rp 240,1 triliun.
Menariknya, meskipun mengalami defisit, keseimbangan primer APBN hingga akhir Agustus masih mencatat surplus sebesar Rp 154 triliun. Keseimbangan primer adalah selisih antara pendapatan negara dan belanja negara yang tidak memperhitungkan pembayaran bunga utang. Posisi surplus ini menandakan bahwa pendapatan negara masih lebih besar daripada belanja pemerintah di luar pembayaran bunga utang.
Dari sisi pembiayaan, realisasinya telah mencapai Rp 473,5 triliun atau 68,7% dari target APBN. Sementara itu, pembiayaan utang neto hingga akhir Agustus tercatat sebesar Rp 506 triliun.
Suahasil menegaskan bahwa pelaksanaan APBN hingga Agustus masih berjalan sesuai dengan rencana yang ditetapkan. Namun, ia mengakui adanya perkiraan peningkatan defisit pada sisa empat bulan terakhir tahun ini, seiring dengan kelanjutan realisasi pendapatan dan belanja negara.
“Kita juga sudah memproyeksikan di Lapsem bahwa defisit APBN akan menuju 2,85% dari PDB. Jadi itu nanti dia akan ada proyeksi peningkatan,” ungkap Suahasil. Ia juga kembali menegaskan komitmen pemerintah untuk menjaga defisit APBN tetap di bawah 3% terhadap PDB. “Saya komit untuk itu,” imbuhnya.
Pelaksana Harian (Plh) Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan, Ferry Ardiyanto, menambahkan bahwa pemerintah telah melakukan perhitungan terhadap dinamika perekonomian global dan dampaknya terhadap APBN, baik dalam jangka pendek maupun potensi di masa mendatang.
“Apakah outlook defisit 2,85% masih feasible? Tadi diterangkan oleh Pak Menteri bahwa memang ada peningkatan risiko dari sisi eksternal baik dari komoditas, energi, maupun yield global. Namun APBN memang dirancang untuk menghadapi dinamika seperti ini,” jelas Ferry.
Menurutnya, APBN memiliki bantalan (buffer) yang cukup kuat untuk memitigasi gejolak geoekonomi dan geopolitik yang sedang terjadi. Meskipun demikian, outlook defisit APBN 2026 sebesar 2,85% tetap menjalani ‘stress test’ untuk menguji berbagai skenario ke depan. Pengujian ini juga mempertimbangkan faktor-faktor seperti belanja negara, pendapatan negara, hingga aspek pembiayaan.
“Yang paling penting adalah kita memiliki buffer yang sampai saat ini masih kuat termasuk pengelolaan belanja, kemudian optimalisasi pendapatan negara, strategi pembiayaan, dan penggunaan instrumen fiskal yang prudent,” tandas Ferry.
Ikuti DailyFX.ID
